Home Kolom Desa Wisata, Sebuah Euphoria Pariwisata

Desa Wisata, Sebuah Euphoria Pariwisata

Jembatan Cinta Desa Panusupan Kecamatan Rembang menjadi daya tarik baru wisata di Purbalingga, Jawa Tengah. (Ina Farida/Purwokertokita.com)

Purwokertokita.com – Euphoria pariwisata di suatu daerah melahirkan tren pengembangan destinasi. Tak terkecuali desa wisata. Setiap wilayah desa yang memiliki keindahan alam kemudian “disulap” menjadi objek wisata.

Bahkan, mereka yang mengaku pengelola berlomba-lomba membuat spot menarik di suatu tebing, sawah, sungai, danau, dan laut. Tujuannya hanya untuk berswafoto di objek itu.

Parahnya, mereka (pengelola) mengklaim bahwa apa yang mereka kembangkan di desa adalah desa wisata. Benarkah adanya?

Satu objek atau pemandangan menarik di desa yang dikelola dan dikunjungi wisatawan tidak serta-merta disebut sebagai desa wisata. Desa yang hanya menyuguhkan objek spot foto tidak dapat disebut desa wisata, meskipun dikelola oleh desa dan banyak dikunjungi wisatawan.

Pengembangan desa wisata harus berdasarkan konsep yang jelas. Desa wisata harus memiliki potensi untuk dikembangkan berbagai komponen kepariwisataan, seperti atraksi, akomodasi, kuliner, cinderamata, dan kebutuhan wisata lainnya.

Keaslian pedesaan menjadi ciri khas dalam konsep desa wisata. Keaslian bisa dalam bentuk kehidupan ekonomi, sosial budaya, adat istiadat, arsitektur, dan segala potensi wisata khas desa.

Tipologi dalam Pengembangan Desa Wisata

Pengembangan desa wisata dapat dilakukan dengan pendekatan tipologinya. Pendekatan tipologi desa wisata biasanya didasarkan pada karakteristik yang berbeda pada masing-masing desa. Perbedaan karakteristik itu terletak pada jenis atraksi wisata dan pencapaian ke desa wisata maupun kawasan resort wisata (Chusmeru,2009).

Tipologi dan karakter desa wisata perlu diidentifikasi. Apa saja atraksi wisata yang khas, berapa jarak tempuh dari terminal bus atau stasiun kereta api serta destinasi utama di daerah tersebut, berapa durasi waktu yang dapat dihabiskan wisatawan di desa sesuai dengan besaran desa wisata.

Selanjutnya, rumuskan pula persoalan ketersediaan sarana dan prasarana, pelayanan apa saja yang akan diperoleh wisatawan di desa pada saat baru datang, saat beraktivitas, dan saat meninggalkan desa wisata. Serta interaksi dan something to do apa saja yang ditawarkan kepada wisatawan.

Setelah tipologi desa wisata berhasil ditetapkan, maka langkah berikutnya merumuskan kemasan paket wisata yang ditawarkan. Paket wisata itu bisa dalam tiga pilihan. Pertama, berhenti sesaat (just stop for a moment). Paket ini ditawarkan bila atraksi yang ada sifatnya tunggal, kurang variatif, interaksi wisatawan dengan masyarakat terbatas. Kedua, berhenti untuk sementara waktu (rest for a while). Wisatawan akan singgah dan berhenti cukup waktu untuk menikmati atraksi wisata yang bervariasi. Misal one day trip keliling desa, makan bersama penduduk, belajar kuliner, membuat kerajinan, atau melakukan aktivitas di ladang.

Ketiga, tinggal inap (enjoy an overnight stay). Paket ini memungkinkan wisatawan tinggal atau menginap di desa wisata. Masyarakat akan lebih banyak mendapatkan keuntungan dari paket ini. Berbagai atraksi seni budaya masyarakat bisa lebih dioptimalkan.

Penulis
Drs Chusmeru MSi
Pengamat Pariwisata dan
Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unsoed

Baca Juga

Saat Talenan Tak Lagi Menjadi Alat Memasak

Purwokertokita.com – Talenan ternyata tak sekadar menjadi peralatan memasak. Tempat …