logo banyumas
Ilustrasi: Logo Kabupaten Banyumas./Istimewa

Purwokertokita.com – Bahasa Banyumasan memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari bahasa jawa lainnya, selain kata sapaan “Rika” dan “Inyong” yang digunakan oleh masyarakat Banyumas, masih banyak istilah lain yang sering membuat bingung orang luar Banyumas.

Bagi orang luar Banyumas yang juga menggunakan bahasa jawa, sering kali terjadi roaming saat ngobrol dengan orang Banyumas, ada istilah tertentu yang hanya digunakan oleh orang Banyumas dalam kesehariannya.

Sebutan ngapak yang disematkan untuk orang Banyumas, sampai saat ini masih banyak yang meributkan. Ada yang setuju dan menerima istilah ngapak untuk bahasa banyumasan, ada juga yang menolak disebut ngapak karena dianggap sebagai sebuah ejekan. Tapi apa pun itu yang terpenting adalah jangan sampai membuat orang Banyumas malu untuk menggunakan bahasanya sendiri.

Saat berbicara orang Banyumas selalu jelas dalam mengucapkan vokal, atau yang disebut dengan cetha wela welo, “a” ya diucapkan “a”, “o” ya diucapkan “o”. Tapi bukan hanya perbedaan pengucapan vokal saja, tujuh istilah di bawah ini juga sering membuat orang luar Banyumas bingung saat mendengarnya.

1. Angger

Kata “angger” memiliki arti “misal”, orang Banyumas biasa menggunakannya untuk mengungkapkan kalimat perumpamaan. Contoh dalam penggunaan katanya : “angger kaya kuwe” memiliki arti “misal seperti itu”, atau contoh lain “Angger inyong dadi wong sugih” memiliki arti “misal saya jadi orang kaya”. Berbeda dengan orang luar Banyumas yang menggunakan kata “nek”, contohnya “nek ngono kuwi” yang memiliki arti “misal seperti itu”, akan dikatakan oleh orang Banyumas menjadi “Angger kaya kuwe” dan artinya tetap sama.

Baca Juga  Empu Rizal, Seni Pamor dalam Tempaan Generasi Muda

Baca juga : Malu atau Bangga Sih Saat Kamu Disebut Orang Ngapak?

2. Batir

Kata “batir” adalah kata yang digunakan oleh orang Banyumas untuk menyebut teman. Contoh dalam penggunaan katanya : “Slamet kae batire inyong” memiliki arti “yang namanya Slamet itu teman saya”. Kata “batir” sama dengan kata “kanca” atau “konco” yang biasa digunakan oleh orang luar Banyumas.

3. Bebeh

Kata “bebeh” oleh orang Banyumas biasa digunakan untuk menunjukan rasa malas. Contoh dalam penggunaan katanya : “bebeh temen sih” yang memiliki arti “males banget sih”. Meski memiliki arti kata malas, “bebeh” juga sering digunakan oleh orang Banyumas untuk menunjukan penolakan pada seseuatu atau tawaran. Misal ada pertanyaan “rika gelem dadi pacare inyong?” yang memiliki arti “kamu mau jadi pacar ku?”, jika menolaknya biasanya akan dijawab “bebeh lah”.

4. Kemutan

Kata “kemutan” memiliki arti “teringat”, kata ini memiliki arti yang sama dengan “kelingan” bagi orang luar Banyumas. Contoh dalam penggunaan katanya : “inyong nembe kemutan” yang memiliki arti “aku baru teringat”. Contoh lain “inyong kemutan kambi mantan” artinya “aku teringat sama mantan”.

Baca juga : Ternyata, Ini Alasan Anak Muda Banyumas Masih Jomblo

5. Gola gokin

Baca Juga  Tahukah Kamu, Islam Masuk Purbalingga Tahun 1100 Masehi

Kata “gola gokin” biasanya digunakan oleh orang Banyumas untuk menunjukan sebuah keyakinan atau kesungguhan akan sesuatu. Kata ini juga untuk menunjukan sebuah ketegasan agar orang lain percaya pada apa yang sedang dikatakan atau diceritakan oleh orang Banyumas. Contoh penggunaan katanya : “yakin gola gokin inyong ora tau nglombo” yang memiliki arti “sungguh saya tidak pernah berbohong”.

6. Seborehe

Kata “seborehe” memiliki arti kata “sepuasnya”, kata ini digunakan untuk menunjukan sebuah kepuasan atau menyuruh orang lain untuk melakukan sepuasnya akan sesuatu. Contoh penggunaan katanya “kuwe rambutan depangan seborehe ngonoh, tekan kulit wijine sisan” yang memiliki arti “itu rambutan silakan dimakan sepuasnya, sampai kulit bijinya sekalian”.

7. Ndeyan

Kata “ndeyan” digunakan oleh orang Banyumas untuk menunjukan sesuatu yang belum atau tidak jelas kebenarannya, “ndeyan” memiliki arti kata “barangkali atau mungkin”. Kata “ndeyan” sering digunakan oleh orang Banyumas untuk menyampaikan informasi yang diperoleh atau berasal dari orang lain, karena belum tahu kebenarannya maka ditambahi kata “ndeyan” dalam kalimat atau omongannya. Contohnya : “kae wong sugih anu ngingu tuyul ndeyan” yang memiliki arti “mungkin/barangkali orang itu kaya karena memelihara tuyul”.

Tujuh istilah atau kata di atas biasa digunakan oleh masyarakat Banyumas dalam kesehariannya menggunakan dialek banyumasan. Jadi jangan merasa asing atau aneh saat mendengar istilah-istilah ini diucapkan oleh orang Banyumas.

Yudi Setiyadi