Home Wisata Pentingnya Membicarakan Data dalam Pengembangan Pariwisata

Pentingnya Membicarakan Data dalam Pengembangan Pariwisata

Sejumlah wisatawan sedang mengikuti kegiatan canyoning di lereng selatan Gunung Slamet.(NS/Purwokertokita.com)

Purwokertokita.com – Pengamat pariwisata Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Drs Chusmeru MSi menyebutkan, Pemkab Banyumas seharusnya menentukan target wisatawan dan capaian ekonomi, sosial serta budaya saat menyusun Kalender Wisata Tahun 2019.

Menurut dosen yang berpengalaman di dunia pariwisata Bali ini, target wisatawan dan capaian yang jelas akan membantu untuk menjaring wisatawan dan melakukan promosi.

Target wisatawan ini, tambah Chusmeru, bisa didapatkan dengan membandingkan data tahun sebelumnya, seperti kunjungan ke objek wisata, tingkat hunian di hotel, pendapatan pedagang, tingkat partisipasi masyarakat dan lainnya.

“Jika hal itu tidak dilakukan, maka Pemkab Banyumas tidak akan pernah mampu mengukur dampak dari event wisata yang sudah digarap,” katanya.

Chusmeru menuturkan, selama ini penilaian capaian event hanya pada jumlah penonton yang ramai, jumlah peserta banyak dan kualitasnya yang bagus atau jelek. Tapi tak pernah ada hitungan kuantitatif terkait dampak event terhadap tingkat hunian di hotel atau peningkatan pendapatan pedagang.

“Kebiasaan mendata ini memang sulit, tapi perlu dimulai agar instansi terkait dan penggagas event dapat berbicara dengan data. Sekaligus menjual eventnya di tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya.

Pria asal Cilacap ini juga menyampaikan, tahun 2020 Indonesia akan menyongsong era wisatawan milenial. Artinya, tahun depan akan menjadi ajang pintu masuk menyambut wisatawan generasi ini.

“Ciri-ciri wisatawan milenial ini berusia di bawah 35 tahun, menyukai unsur lokalitas, tantangan dan personal traveling,” katanya.

Chusmeru menegaskan, perubahan event selayaknya disesuaikan dengan karakteristik wisatawan milenial, baik dalam kemasan kalender wisatanya, promosinya, maupun bentuk pelayanannya.

Meski demikian, menurut dia, tetap perlu dibedakan antara agenda yang ditujukan untuk pelestarian budaya, seperti grebeg suran, kentongan maupun festival tradisional lainnya serta event yang ditujukan untuk meningkatkan kunjungan wisata.

“Contohnya Festival Serayu, bisa dikemas dengan tambahan musik yang konsepnya memadukan wisata sungai dan suasana romantis dari alunan musik. Itu bisa jadi daya tarik dan punya nilai jual kepada wisatawan,” tambahnya. (NS/YS)

Baca Juga

Pemkab Banyumas Harus Berani Promosikan Kegiatan Wisata Lebih Luas

Purwokertokita.com – Banyumas Extravaganza dan Festival Kentongan yang menjadi event…