
Purwokertokita.com – Sejumlah 74 pendaki dari berbagai daerah melakukan pendakian di Gunung Slamet melalui jalur Baturraden, pada Senin (10/9). Pendakian ini merupakan bagian dari ritual pendakian 1 Sura yang telah rutin digelar di Baturraden.
Pegiat Raden Pala, Reo Watu mengatakan, sebelum diberangkatan peserta menggelar syukuran dan temu teknik di Pendapa Bumi Perkemahan Wanawisata PT Palawi Baturraden, Minggu (9/9) malam. Setelah itu seluruh peserta memulai pendakian ritual pada Senin (10/9) pukul 05.00 WIB.
“Perjalanan diperkirakan mencapai waktu 10 jam,” kata Reo.
Menurut Reo, tradisi pendakian ritual ini sebenarnya telah dilakukan sejak puluhan tahun silam. Namun, biasanya hanya diikuti oleh masyarakat dan komunitas pecinta alam di wilayah Banyumas.
“Pemilihan jalur Baturraden yang masih relatif alami membuat peserta tertarik mengikuti pendakian ini. Oleh karena itu, jumlah peserta melonjak dua kali lipat dibandingkan tahun lalu,” tambah Reo.
Ketua Paguyuban Masyarakat Pariwisata Baturraden (PMPB), Supriyono mengatakan, selama pendakian peserta melakukan tapa bisu sepanjang perjalanan. Mereka tidak boleh berbicara satu sama lain.
“Selain itu tetap diimbau untuk tidak mengambil benda maupun tumbuhan yang ditemui di sepanjang jalan,” ujarnya.
Peserta pendakian, sambungnya, juga dibekali dengan kantung untuk membawa sampah saat turun dari puncak Gunung Slamet serta menggelar aksi penanaman bibit pohon. Seluruh peserta dijadwalkan tiba kembali di Baturraden pada Selasa (11/9) sore.
Sementara itu, Administratur Perum Perhutani KPH Banyumas Timur, Didiet Widhy Hidayat mengatakan, pendakian ritual 1 Sura di Gunung Slamet merupakan upaya untuk melestarikan budaya. Sekaligus mengenalkan jalur Baturraden sebagai alternatif rute pendakian yang berbeda.
“Jalur Baturraden punya keunikan tersendiri, karena vegetasinya yang masih alami dan benar-benar terjaga,” kata Didiet.
Didiet berharap, aktivitas pendakian tersebut dapat dibuka selain pada waktu ritual saja. Tapi juga menjadi paket wisata yang digarap berkerjasama dengan komunitas pecinta alam setempat. (NS/YS)