Momen Penting Saat Soedirman Memutuskan Bergerilya

Lingkungan, Telisik37 Dilihat
foto istimewa
foto istimewa

Purwokertokita.com – Usai dari Istana, Soedirman membuat keputusan penting. Ia harus ke luar kota Yogyakarta. Melawan Belanda dengan taktik perang gerilya.

Sekitar pukul 11.30 pasukan berjalan keluar wilayah Yogyakarta menuju wilayah selatan. Menurutnya, banyak tentara yang tidak membawa bekal perlengkapan. Selain itu, juga banyak dokumen yang dimiliki mereka terbakar untuk menghilangkan jejak. Saat berangkat, jelas Abu, Soedirman menaiki mobil sedan hitam dan mobil compreng.

“Pasukan saat itu menyusuri wilayah selatan Yogyakarta mulai dari Bantul hingga Parangtritis. Saat itu, saya ingat kali pertama istirahat dilakukan di tempat lurah Grogol namanya Pak Hadi. Di rumah Pak Hadi, sambil istirahat, petinggi-petinggi pasukan yang dekat dengan Pak Dirman berkumpul dan membuat rute perjalanan menuju Gunung Wilis di Kediri. Sedangkan Pak Dirman diperiksa denyut nadinya oleh dokter pribadinya, Dokter Suwondo,” ujarnya.

Menurut Abu pilihan menuju Gunung Wilis menjadi realistis karena ada perlengkapan komando, yakni pemancar radio. Dari sana, menurut Abu Arifin, semua komando dari Jenderal Soedirman disampaikan melalui pemancar. “Namun itu tidak bertahan lama karena fasilitas pemancar ketahuan Belanda dan akhirnya markas tersebut dibombardir,” katanya.

Abu melanjutkan, setelah dari Grogol, pasukan kemudian berjalan menuju Parangtritis. Namun, saat itu dua kendaraan yang digunakan tidak bisa melanjutkan perjalanan karena ada sungai besar yang membelah. “Saat itu, tidak ada jembatan di sungai itu. Saya lupa namanya sungainya apa, tetapi yang jelas semua kendaraan tidak bisa melintasinya. Sejak itu, perjalanan terus dilanjutkan dengan konsekuensi Pak Dirman ditandu,” ujarnya.

Perjalanan tersebut, kemudian sampai di Desa Playen yang masih berada di wilayah Yogyakarta. Abu menjelaskan, sesampainya di desa tersebut, Soedirman dipinjami sado milik perkebunan. “Disana ada sado yang dipinjamkan dari pihak perkebunan dan bisa digunakan untuk Pak Dirman,” ujarnya.

Bagi Abu Arifin, sosok Soedirman adalah sosok jenderal pejuang yang sebenarnya. Meski dalam keadaan sakit, Soedirman tetap berjuang demi negaranya hingga titik darah penghabisan. “Mungkin banyak yang bertanya, kenapa Soedirman memilih bergerilya daripada ditangkap Belanda? Padahal kalau ditangkap Belanda, pasti diperlakukan baik,” ujarnya.

Abu menjelaskan, pilihan Soedirman tersebut lebih dikarenakan memegang sumpah jabatan yang diucapkan jenderal besar tersebut saat diangkat menjadi panglima besar kali pertama yang ditulis dalam sumpahnya dan diucapkan dalam lisan. “Dalam salah satu sumpahnya, Jenderal Soedirman menuliskan sanggup bersedia mempertahankan negara Republik Indonesia sampai titik darah yang penghabisan. Sumpah itu kemudian dipegangnya selama menjadi pemimpin pasukan,” tutur Abu.

Uwin Chandra

Tinggalkan Balasan