Gempur Rokok Ilegal

gempur rokok ilegal
Ilat Sedep Waduk Karep
Sastra

Ilat Sedep Waduk Karep

Ilustrasi oleh : Annisa Sri Mulyatini

Oleh : Dwi Cipta

: Untuk Herda Ananta Yoga

Bila membuka halaman-halaman “Ilat Sedep Waduk Karep,” khususnya di bagian kesalahan peracikan masakan dan penyajiannya, terdapat kisah-kisah kesilapan para juru masak mulai dari memilih bahan hingga proses pembuatan masakan. Di antara kitab-kitab memasak yang pernah ada, mungkin hanya kitab ini yang ditulis dengan cara yang tidak umum. Karena tak pernah menjadi pembicaraan umum, tak banyak orang yang tahu kapan kitab ini ditulis. Menurut pengelola museum Radya Pustaka, kitab ini diperkirakan ditulis ketika pantai utara Jawa masih dikuasai oleh Sultan Agung mengingat adanya catatan tentang masa-masa persiapan penyerangan markas VOC di Batavia, terutama ketika penduduk Jawa dari segenap lapisan tengah dibanjur waham tanda-tanda bangkitnya kembali Nusantara. Penulis kitabnya sendiri jarang dikenal oleh para sejarawan yang tergila-gila mengorek berbagai macam informasi dari masa lalu. Diabaikannya ketokohan penulis kitab ini disebabkan karena sedikitnya informasi yang diperoleh tentang dirinya di kitab itu.

Sejak melahap halaman pertama sampai kalimat terakhir di halaman penutup, aku berhasil diyakinkan si penulis kitab bahwa dirinya adalah seorang lelaki yang sangat mencintai kegiatan memasak namun tak pernah mau menjadi juru masak istana, pembesar kerajaan, atau para hartawan ternama. Barangkali kebiasaan berkelana dan pergaulannya yang luas itu membuat ia tak mau terpasung di dapur dan menjadi penunggu perapian. Meski peralatan masak, persediaan aneka bumbu, atau bahan masakan langka ada di depan mata, bila hasrat bertualangnya menggelegak, tak ada seorang pun yang mampu menghentikan kakinya untuk menjelajah negeri-negeri di Timur, Barat dan Utara Pulau Jawa. Hebatnya, di sepanjang petualangannya itu ia bisa memasuki dapur istana, rumah para pembesar dan hartawan, penduduk biasa hingga mereka yang tinggal di gubug reot dengan dapur seadanya. Di sanalah ia berbagi pengetahuan tentang masakan, mengenal watak orang beserta kebiasaan makan mereka, dan menciptakan kegembiraan bagi orang-orang yang kebetulan sedang kelaparan.

Menurut pengakuannya sendiri, ia dilahirkan dari keluarga miskin antah berantah yang tak pernah mengenal tulisan. Jelajah pengembaraan yang jauh mengubah dirinya yang semula buta huruf menjadi seorang pembaca dan pencatat tekun. Karena lebih tertarik pada makanan dan minuman, selama bepergian ia lebih suka membuat catatan yang berhubungan dengan dua hal itu. Yang unik dari catatan-catatan yang kemudian ia susun menjadi kitab masakan itu adalah kesalahan-kesalahan memasak yang secara kebetulan melahirkan makanan yang nikmat. Entah apa tujuannya, kesalahan-kesalahan tak sengaja selama proses memasak itu disusun dalam satu bab khusus yang diberi judul “Kleru Kang Ora Dadi Padu.”

Seolah hendak melengkapi aura kemisteriusan lelaki penulis Ilat Sedep Waduk Karep, di antara kitab-kitab sejaman, tak ada secuil pun keterangan yang menyebutkan atau menjelaskan dengan gamblang latarbelakang sosok penulis kitab ini. Kitab memilih bahan makanan dan cara memasak, kitab bumbu, kitab perbendaharaan peralatan memasak dan penyajian makanan, kitab minuman, hingga kitab obat-obatan di masa itu hanya memuat keterangan penyusunnya. Kalau pun ada keterangan tentang orang-orang di luar Sang Penyusun, informasinya tak lebih dari silsilah, ucapan terima kasih, dan doa-doa yang dipanjatkan karena jasa mereka dalam kelahiran kitab. Orang-orang yang penasaran dengan penyusun kitab yang sedang kita bicarakan ini akan kecewa karena tak menemukan sedikit pun informasi tentang dirinya di kitab-kitab serupa Ilat Sedep Waduk Karep. Apalagi di kitab semacam Babad Tanah Jawa, Babad Cirebon, Babad Banten yang menurut perkiraan ditulis di masa yang sama atau sesudahnya, tentu hasilnya akan lebih mengecewakan.

***

Lalu siapakah penulis kitab ini sebenarnya? Inilah pertanyaan yang bertahun-tahun menggangguku. Sementara sebagian teman-temanku yang kuliah di jurusan sejarah lebih tertarik pada sejarah politik atau ekonomi, aku justru lebih suka menjerumuskan diri pada sejarah bumbu dan masakan. Kisah nenekku bertahun-tahun lalu tentang pengalamannya di masa-masa Agresi Belanda pertama meninggalkan bekas mendalam di benakku. Waktu itu, di bawah cekaman ketakutan teramat sangat, ia harus memuaskan lidah orang-orang Belanda yang sedang beristirahat di desaku dalam perjalanan mereka untuk menduduki Semarang. Kemampuan memasak yang jempolan memang menyelamatkan selembar nyawanya. Namun rasa bersalah selama bertahun-tahun karena telah memasakkan serdadu Belanda terus menghantuinya. Sejak itulah rasa penasaranku terhadap dunia bumbu dan masakan meletup hingga mengantarkanku pada studi tentang sejarah masakan.

Ketertarikanku pada kitab ini diawali lewat peristiwa tak sengaja. Begitu menyelesaikan kuliah di jurusan sejarah, karena tak ingin langsung melanjutkan studi ke tingkat pasca sarjana, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengunjungi museum Radya Pustaka. Di museum itulah pertamakali aku menemukan kitab tentang masakan yang ganjil karena isinya tak melulu tentang bumbu, cara memasak, bahan masakan, dan peralatan dapur. Sebuah keterangan bagian pembuka bab Kleru Kang Ora Dadi Padu memancarkan daya tarik tersendiri. Dengan nada penelanjangan diri yang ironis, ia menuliskan kalimat-kalimat sebagai berikut,

Sepanjang hidupku, tak ada hal yang lebih kucintai selain kesucian dan kesempurnaan. Namun selama itu pula aku bersaksi aib dan kesalahan tak pernah terpisah dariku, dari orang-orang yang kutemui di sepanjang pengembaraan. Bila aib dan kesalahan dalam hidup melahirkan kecewa, putus asa, dan sedih, hanya dalam masakan aib atau kesalahan bisa melahirkan rasa nikmat atau bahagia…”

Bagaimana mungkin sebuah kitab masakan ditulis dengan cara seperti ini, pikirku. Selama setahun aku terus membaca kitab ini, mencoba resep-resep masakan yang ada di dalamnya, mencari jenis-jenis bumbu yang tak semuanya ada di toko-toko bumbu, dan mengira-ira pada masa apa kitab ini ditulis. Akibat terus dibikin penasaran, akhirnya aku memilih kitab ini sebagai bahan thesis ketika memutuskan melanjutkan studi pasca sarjana di jurusan yang kuambil sebelumnya.

Dalam kebuntuan menyelesaikan thesis yang berlarut-larut, entah kenapa naluriku selalu mengatakan kalau akhirnya misteri ini akan bisa kubongkar. Asalkan mencermati seluruh bagian kitab Ilat Sedep Waduk Karep dan cermat menelisik kitab-kitab lain yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kitab ini, pembaca teliti yang memiliki kemampuan menafsir mungkin akan bisa mengira-ngira siapa lelaki ini sebenarnya. Misalnya dari caranya memperhitungkan porsi cabai dan ledakan sensasi pedasnya di mulut, kecenderungan penggunaan garam, aroma terasi yang menguar dari sambal atau masakan tertentu, perbandingan jumlah resep masakan ikan dan daging hewan, jenis-jenis sayuran yang ia olah, hingga pilihan masakan dengan bumbu kelapa atau santan dan yang bukan kelapa atau santan. Para sejarawan dan pencicip gula yang jempolan—baik gula aren maupun gula tebu—akan mengerti jenis pohon aren dan tebu daerah mana yang bisa menciptakan citarasa tertentu. Keterangan ini memang dipersulit dengan daya jelajah resep-resepnya yang memusingkan, seolah-olah ia mampu menghadirkan tangan para juru masak jempolan dari berbagai wilayah dalam satu buku yang ketebalannya tak lebih dari dua ratus halaman. Namun bukankah misteri muncul untuk dipecahkan? Kalau pun aku tak beruntung bisa memecahkannya, mungkin suatu saat nanti akan ada orang lain yang bisa memecahkannya.

***

Dalam sebuah uraian tentang kesalahan-kesalahan memasak yang dicatat penulis kitab Ilat Sedep Waduk Karep, tak ada yang lebih pantas ditertawai atau justru membikin kening berkerut selain pengalamannya sendiri selama beberapa waktu di berbagai tempat. Saat itu, galangan-galangan kapal pantai utara Jawa, mulai dari Tuban hingga Semarang, tengah sibuk membuat perahu-perahu besar. Wilayah bagian Barat Semarang hingga bagian Barat Cirebon dipenuhi dengan para petani dan budak-budak yang dipaksa bekerja menggarap sawah yang padinya dipakai untuk perbekalan perang. Sementara bila masuk pusat kerajaan Mataram, orang-orang sibuk membuat persenjataan di wilayah Batur, budak-budak dan para petani dikerahkan menanam padi buat perbekalan dari pedalaman sampai pesisir, dan sungai-sungai besar sibuk membawa orang dan barang dari pantai utara ke pusat kerajaan Mataram.

Lelaki yang di kemudian hari menuliskan kitab ganjil ini tak begitu peduli dengan kesibukan para nelayan, pembuat perahu, dan saudagar di galangan kapal kalau saja tak memperhatikan obrolan sehari-hari mereka. Perang, Adipati Unus, penguasaan Sundakelapa oleh orang-orang atas angin. Dari mana mereka memperoleh obrolan bersemangat tentang rencana perang di Sundakelapa, munculnya kembali kapal besar Adipati Unus yang konon bisa memuat hingga sepuluh ribu pasukan, panji-panji kerajaan Mataram yang makin berkibar, bahkan desas-desus panji-panji Majapahit yang berkibaran kembali di perairan Utara bersama kapal Laksamana Nala di malam-malam gelap?

Sebagai seorang pengembara, tentu saja ia mendengar lebih banyak dari orang-orang itu. Namun nalurinya sebagai juru masak justru mengendus hal lain. Ia menduga efek waham yang menyerang benak orang-orang itu berasal dari kristal-kristal garam pantai sebelah barat Lasem ketika berpadu dengan merica dan pala yang dibawa para pedagang Bugis dari negeri Tidore. Dari obrolan dengan para juru masak yang biasanya melayani kebutuhan makan para pekerja galangan kapal hingga perkampungan di kaki Pegunungan Kendheng, sudah sejak bertahun-tahun mereka mendapatkan pasokan merica dan pala dari para petani di kerajaan Tidore. Selama bertahun-tahun pula ia berpikir hubungan bumbu yang melahirkan sensasi panas sesaat dan waham kebesaran masa lalu di benak para pekerja dan orang-orang di wilayah ini.

Menyaksikan kegaduhan di pedalaman hingga pesisir pulau Jawa, mulai dari bagian timur hingga ujung Barat, pada suatu waktu ia memutuskan singgah untuk sementara waktu di Jepara. Sehari-hari ia bergaul dengan para pekerja galangan kapal dan nelayan di pesisir Jepara. Karena wataknya yang hangat, tanpa kesulitan berarti ia memeroleh berbagai macam jenis ikan, bumbu-bumbu dari berbagai penjuru Nusantara, dan menemukan keriangan bersama para pekerja galangan kapal yang menikmati masakannya dengan antusias. Beberapa pedagang Tiongkok yang keranjingan masakan enak memanjanya dengan bumbu-bumbu dan peralatan masak lengkap. Kabar citarasa masakan tak kalah cepat beredar dibandingkan dengan desas-desus penyerangan besar-besaran ke Sundakelapa. Karena itu, sebelum terjadi geger yang dampaknya tak bisa diperkirakan, mereka memburu keenakan masakan lelaki ini.

Di masa-masa ini, entah apakah terpengaruh oleh cerita orang-orang di pesisir yang bermimpi menyaksikan kembali kapal Adipati Unus, pada suatu tidur malam yang nyenyak, ia bermimpi melihat kapal besar sedang melaju ke pantai Jepara. Berlainan dengan mimpi orang-orang, ketika kapal makin dekat, ia justru menyaksikan Raja Diraja Mataram berdiri murung tanpa mahkota kebesarannya. Saat terbangun dari mimpi semacam ini, suara adzan subuh langsung masuk ke telinganya. Semula ia menganggap mimpi semacam ini hanya bunga tidur. Namun nalurinya terus bekerja ke arah lain. Ia, yang belum tahu apa hubungan mimpi ganjil ini dengan dirinya, sering termenung sembari memasak. Karena terjerumus pada berbagai pikiran yang bukan-bukan, selama meracik bumbu di pesisir pantai Jepara ini ia sering membubuhkan merica, pala, serai, dan jahe dalam ukuran di luar kebiasaannya. Keterlanjuran yang tak diharapkan itu membuatnya terpaksa harus menambahkan porsi santan ke dalam masakan ikan yang ia persiapkan. Ia menyesali kebodohan yang tak diharapkan itu dan berpikir betapa kecewanya orang-orang yang akan menikmati masakannya.

Di luar perkiraannya, orang-orang justru menikmati masakannya. Dua pedagang Tiongkok yang sering memberinya bumbu geleng-geleng kepala sembari menyebut kepedasan dan hawa hangat yang lahir setelah orang menikmati masakannya nyaris melampaui merica dari daerah Sechuan. Selagi orang-orang masih memuji hasil dari racikan masakannya, sebuah penujuman kelam tentang kegaduhan yang akhir-akhir ini dibicarakan banyak orang dari pedalaman hingga pesisir Jawa terbentang di depan matanya. Ia terkesiap dan kehilangan seluruh sisa tenaganya. Betapa memilukannya kalau semua yang terbentang di depan matanya benar-benar terjadi. Dalam kekalutan pikiran itu, ia mengingat-ingat porsi bumbu dan segala tahapan masak yang telah ia kerjakan. Ia berpikir kesalahan tak disengaja ini harus dituliskan karena menjadi jalan bagi terciptanya perubahan-perubahan lain di masa depan…

***

Aku sedang di kamarku, meneliti kitab-kitab masakan dan kisah-kisah yang berhubungan dengan makanan di Jawa sejak era kekuasaan Demak hingga runtuhnya Mataram untuk keperluan thesisku ketika memikirkan penulis kitab yang langka itu. Mencari sambungan kitab itu dengan kitab-kitab lain yang semasa seolah sama mustahilnya memadukan santan dengan asam. Betapa akan sia-sia studi yang kukerjakan kalau tak menemukan sambungan-sambungannya yang masuk akal.

Persis sebulan lalu, seorang sejarawan dari Belanda menyerahkan sebuah naskah yang merupakan versi Babad Tanah Jawa paling tua ke museum Radya Pustaka. Telah beratus-ratus tahun naskah itu tersimpan secara estafet dari satu ahli Jawa ke ahli Jawa lainnya di Belanda secara rahasia. Entah apa pertimbangan yang dimiliki oleh para professor tengik dari negeri Belanda sehingga naskah yang mestinya menjadi salah satu kekayaan negeriku itu tak segera dikembalikan. Dan aku tak tahu pula apa pertimbangan yang dimiliki oleh pewaris terakhir dari para professor itu sehingga ia memutuskan mengembalikan Babad yang sekian lama tersimpan di Belanda. Tertarik oleh kembalinya naskah itu, secara iseng aku meminta kopi digitalnya dan mempelajarinya sendiri di rumah.

Selama hampir satu bulan aku menyuntuki naskah itu dan mencari keterangan-keterangan yang bisa melengkapi thesisku. Namun hari-hari yang kuhabiskan selama hampir sebulan ini benar-benar nelangsa. Semuanya terasa buntu. Bahkan ketika membaca bagian dari kitab babad Tanah Jawa yang berkisah tentang masakan yang disuguhkan pada Ki Ageng Pemanahan dalam perjalanannya dari Pajang ke Alas Mentaok, aku masih tak menemukan sambungannya dengan bahan-bahan penelitianku. Untuk menumpas kebuntuan yang meraja di benakku, hampir setiap hari aku mempraktekkan resep-resep masakan di kitab Ilat Sedep Waduk Karep maupun di kitab Babad Tanah Jawa yang baru kuperoleh sebulan terakhir.

Sembari menikmati rokok dan kepahitan kopi yang telah lama dingin, dua kitab yang sedang kusuntuki itu kujajarkan di dalam benak, lalu khayalanku membuka satu demi satu lembaran-lembarannya secara bersamaan. Selama beberapa waktu, pikiranku menjelajahi persis di bab tentang kesalahan memasak dari kitab Ilat Sedep Waduk Karep dan di bagian perjalanan rombongan Ki Ageng Pemanahan dari kerajaan Pajang ke Alas Mentaok. Dalam kebingungan merangkai potongan-potongan kisah dari si juru masak itu, mendadak sebuah ide meletup di kepalaku. Kisah-kisah yang berhubungan dengan makanan di dalam kitab Babad Tanah Jawa yang berangka tahun 1649 tampak agak unik. Dalam perjalanan Ki Ageng Pemanahan dan rombongannya dari Pajang menuju Alas Mentaok setelah geger perang Jawa antara Hadiwijaya dan Penangsang, mereka memang berhenti di sebuah pegunungan kapur berjarak setengah hari berkuda dari pantai Selatan. Namun, berlainan dengan versi-versi Kitab Babad Tanah Jawa lainnya, di kitab yang berangka tahun 1649 ini ada keterangan tentang seorang juru masak lokal yang mengisahkan mimpi-mimpi nubuahnya tentang merica dan pala.

Lima puluh tahun dari sekarang, keturunan Paduka akan menguasai hampir seluruh Jawa. Di puncak kejayaan itu, ambisi keturunan Paduka mungkin melebihi kehendak langit. Ia ingin berkuasa seperti raja-raja Jawa di masa Majapahit, ketika Nala masyhur di seberang lautan melebihi Gadjah Mada yang masyhur di pusat kerajaan. Waham kebangkitan Nusantara itu dilahirkan oleh dua macam bumbu dari negeri timur. Itu dua bumbu yang mengundang iblis-iblis dari negeri dingin di perairan kita. Saya orang yang lemah, tidak mampu membaca masa depan. Namun saya doakan semoga ambisi tersebut tercapai. Kalau tidak tercapai di puncak keturunan Paduka, lima ratus tahun lagi, ketika seorang perempuan yang begitu rakus kekuasaan memaksakan diri menjadi Ratu, kerajaan yang dibangun oleh anak keturunan Paduka akan akan benar-benar lenyap…”

Sepotong kecil kisah perjamuan makan rombongan Ki Ageng Pemanahan di daerah yang di kemudian hari dikenal sebagai Gunungkidul itu secara kebetulan mirip dengan kisah yang dituliskan oleh Juru Masak yang menulis kitab Ilat Sedep Waduk Karep. Mataku terpejam selama beberapa saat untuk mencoba memadamkan gairahku yang berlebihan. Tiba-tiba sebuah perasaan pedih yang luar biasa menelusup dadaku bersama potongan cerita lain yang tak ada dalam kitab Ilat Sedep Waduk Karep: Lelaki itu, selama beberapa tahun membawa rasa bersalah dalam dirinya sendiri karena tanpa sengaja ia menyaksikan bentangan masa depan yang suram di berbagai penjuru negeri, impian kejayaan yang terbenam di rawa-rawa penuh Malaria di wilayah Sundakelapa, orang-orang di negerinya yang melarikan diri ke pedalaman jiwanya sendiri, dan ketidakmampuannya mengolah bumbu-bumbu dan makanan untuk memadamkan sensasi dan waham yang menjangkiti orang-orang.

Dadaku serasa meledak menampung kebahagiaan yang membuncah tiba-tiba. Tanpa bisa kutahan, airmataku berlinangan…

Dwi Cipta, penulis cerita dan esai yang bermukim di Yogya. Novelnya yang berjudul “Darah Muda” akan terbit awal November 2017 mendatang.

Related posts