Gempur Rokok Ilegal

gempur rokok ilegal
Memanggungkan Cerita Rakyat Watu Lawang
Sastra

Memanggungkan Cerita Rakyat Watu Lawang

pentas teater Watu Lawang peserta workshop teater Katasapa Purbalingga
Peserta workshop teater Komunitas Katasapa Purbalingga mementaskan lakon “Watu Lawang” di Griya Seni Giri Sidubajan Kampung Wisata Tematik Sikadut (Katamas) Desa Karangtalun, Kecamatan Bobotsari dan disiarkan secara live di kanal YouTube Misbar Purbalingga, Selasa (24/11) pukul 20.00 WIB./Foto: Dok. Katasapa

Pentas Pertama Peserta Workshop Teater Katasapa Purbalingga

Purwokertokita.com, Purbalingga – Alkisah Adipati Tangkisan tengah dirundung galau. Ia hendak mengkhitan anaknya, namun dia tak punya pendapa yang megah. Ia malu jika hajatan putranya digelar di pendapa yang sempit dan jelek.

Dia lalu pergi ke tempat kakaknya, Adipati Pekuncen untuk meminjam pendapaya yang bagus dan megah. Namun begitu pulang dari tempat kakaknya, dia lupa mengutarakan niatnya meminjam pendapa Kadipaten Pekuncen.

Adipati Tangkisan mengerahkan bala bantuan makhluk halus untuk memindah pendapa itu. Pesta sunatan pun berjalan dengan meriah.

Setelah pesta usai, pendapa pun dikembalikan ke Pekuncen. Namun saat memindah pendapa itu kembali ke asalnya, satu pintunya terjatuh. Adipati Pekuncen yang baru tiba di rumah pun terkejut ketika mendapati pendapanya tanpa pintu.

Suatu hari, seorang petani mengadu ke Adipati Tangkisan karena sawah kering akibat tidak ada air yang mengalir dari sungai. Setelah dicek, ternyata saluran air yang berasal dari Pekuncen itu tertutup pintu pendapa yang terjatuh. Adipati Tangkisan berusaha mengambil pintu itu, namun tidak berhasil.

Adipati Tangkisan pun datang ke rumah kakaknya dan menceritakan apa yang terjadi. Kakaknya pun membantu mengambil pintu itu, namun tetap gagal. Iakemudian memutuskan untuk membuat saluran air baru di sekitar tempat tersebut. Saluran air ini kini dikenal dengan nama Watu Lawang.

Legenda Watu Lawang ini kembali dikisahkan dalam pentas teater Komunitas Teater Sastra Perwira (Katasapa) Purbalingga. Pentas ini dimainkan peserta workshop binaan Katasapa. Pentas digelar di Griya Seni Giri Sidubajan Kampung Wisata Tematik Sikadut (Katamas) Desa Karangtalun, Kecamatan Bobotsari dan disiarkan secara live di kanal YouTube Misbar Purbalingga, Selasa (24/11) pukul 20.00 WIB.

Ketua Katasapa Purbalingga, Ryan Rachman mengatakan, pentas tersebut merupakan rangkaian dari workshop teater yang digelar Katasapa melalui Program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) Dirjen Kebudyaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI Tahun 2020.

“Para peserta workshop dibagi menjadi empat kelompok. Mereka kemudian membawakan pentas dengan lakon bermuatan cerita atau legenda lokal yang berkembang di Purbalingga,” kata dia.

Pentas dibawakan menggunakan bahasa Jawa Banyumasan sebagai bentuk pelestarian dan pengenalan budaya kepada generasi muda. Setelah workshop, peserta membuat naskah berdasarkan cerita rakyat dari Purbalingga, disutradarai, berlatih lalu dipentaskan.

Kepala Desa Karangtalun, Heru Catur Wibowo mengapresiasi pentas teater di Karangtalun. Ia sangat terbuka jika ada kelompok kesenian yang ehndak pentas di tempatnya. Dia berharap masyarakat Karangtalun bisa bersama-sama melestarikan seni budaya tradisi.

“Ada tiga kesenian yang diregenerasi, genjring, kothekan dan kuda kepang,” katanya.

Dengan pementasan ini, dia berharap masyarakat bisa belajar seni pertunjukan teater. Dimulai dari melihat, bediskusi dan nantinya akan muncuk kelompok seni peran di desanya.

Pementasan malam tersebut dilaksanakan secara terbatas dan hanya disaksikan tak lebih dari 40 penonton. Panitia menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Penonton yang hendak menonton diharuskan mencuci tangan dengan sabun, dicek suhu badan dan wajib mengenakan masker.(rad)

Related posts