local media summit

Mengenal Kekayaan Budaya Melalui Kelas Belajar Bersama Museum Soegarda Purbalingga
advetorial

Mengenal Kekayaan Budaya Melalui Kelas Belajar Bersama Museum Soegarda Purbalingga

Kelas belajar bersama di museumSoegarda Purbalingga
Pesera kelas membatik pada program Kelas Belajar Bersama di Museum Prof Dr Soegarda Porbakawatja Purbalingga, Selasa (24/11/2020)./Foto: Afgan

Purwokertokita.com, Purbalingga – Tikar-tikar putih terhampar di pelataran Museum Prof DR Soegarda Poerbakawatja, Selasa (24/11/2020). Duduk di atas tikar itu para pelajar sekolah menengah atas asal Kabupaten Purbalingga. Di sayap kanan halaman museum ada belasan pelajar putra dan putri duduk melingkar mengelilingi wajan kecil berisi lelehan malam yang dipanaskan. Separuh wajah mereka tertutup masker. Tangan kanan mereka memegang canting, sementara tangan kiri mereka menyangga kain putih berpola motif batik klasik

Di sayap kanan, sekelompok pelajar sibuk dengan adonan tanah liat di atas meja bundar berdiameter sekitar 50 Cm. Tangan kanan mereka cekatan memutar meja itu dan pada saat bersamaan jemari tangan kiri mereka membentuk tanah liat itu menjadi gelas bulat.

Sementara di antara kedua sayap kanan dan kiri halaman museum, persis di depan pintu masuk, duduk pelajar putra dan putri memainkan seperangkat calung banyumasan. Mereka tak sendiri. Tampak seorang instruktur memandu mereka memainkan ritme dan melodi tembang Jawa yang terdengar familiar di telinga.

Kelas Calung Banyumasan
Pesera Kelas Calung Banyumasan berlatih mengiringi tembang jawa di halaman Museum Prof Dr Soegarda Purbalingga, Selasa (24/11/2020)./Foto: Afgan

Para pelajar itu merupakan perwakilan dari berbagai sekolah menengah atas di Purbalingga pada program Kelas Belajar Bersama di Museum. Meskipun berasal dari sekolah yang berbeda, namun mereka sama-sama anggota Saka Pariwisata dan Saka Widya Budaya Bhakti di sekolah masing-masing.

“Jumlahnya tidak sampai 50, karena kami membatasi peserta terkait protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19,” kata pengelola museum Soegarda, Anita Wirjo Rahardjo, Selasa (24/11/2020).

Museum Soegarda menggelar tiga kelas pada tahun ini. Tiga kelas itu antara lain kelas kerajinan gerabah, kelas membatik, dan kelas musik tradisional. Kelas berlangsung dua hari, mulai Senin hingga Selasa (23-24/11/2020).

Museum Soegarda menggelar tiga kelas itu untuk mengenalkan kekayaan budaya daerah, khususnya Purbalingga. Selain itu, museum Soegarda memiliki koleksi tiga jenis produk kebudayaan itu.

gelas keramik karya pesera Kelas Belajar Bersama di Museum Prof Dr Soegarda Purbalingga
Gelas keramik karya pesera Kelas Belajar Bersama di Museum Prof Dr Soegarda Purbalingga, Selasa (24/11/2020)./Foto: Afgan

“Museum punya koleksi batik, makanya mengangkat pelatihan membatik. Gerabah kami juga punya koleksi keramik Cina dan Eropa, jadi ketika mereka main ke museum mereka ada gambaran oh ini to keramik yang kemarin kita bikin, ternyata bisa jadi koleksi,” ujar Anita.

Khusus untuk kelas calung banyumasan, latihan diarahkan ke lagu yang nanti akan dipentaskan. Pementasan akan ditayangkan di kanal YouTube museum Soegarda.

Candra Agum Gumelar (19), peserta kelas membatik dari SMA 1 Bukateja, mengaku butuh kesabaran dan ketelitian untuk bisa menghasilkan batik yang estetik. Meskipun punya pengalaman berlatih membatik, namun Candra menegaskan butuh usaha ekstra untuk menghasilkan kain batik yang bernilai tinggi.

“Asyiknya bisa mengenal motif-motif batik, baik yang asli dari Purbalingga maupun daerah lain,” ucapnya.

Shaqila Juniarti (19), mahasiswi peserta kelas membatik dari Stimik Widya Utama Purwokerto, mengatakan generasi muda perlu mengenal batik agar sampai pada kesadaran melestarikan batik sebagai kekayaan budaya.

“Jangan sampai baru tergerak setelah ada Negara lain yang mengklaim batik sebagai milik mereka,” tuturnya.

Bagi Shaqila sendiri, kesulitan terberat dari membatik ada pada teknik menggoreskan malam mengikuti pola motif batiknya. Jika tidak teliti, cairan malam akan mblobor di kain.

“Saya diberi tahu caranya membuat batik, mulai dari bikin sketsa di kain, menggoreskan malam terus pewarnaan,” katanya.

Kukuh Wardoyo (35), instruktur kelas membatik, mengungkapkan, pelatihan yang diajarkan merupakan teknik dasar membatik. Di antara yang diajarkan yaitu teknik mewarnai. Ia mengenalkan teknik mewarnai kontemporer, yaitu dengan menyipratkan cairan pewarna ke kain hingga membentuk corak abstrak.

teknik mewarnai kain batik metode kontemporer
Peserta Kelas Belajar Bersama di Museum Prof Dr Soegarda mempraktikkan teknik mewarnai kain batik metode kontemporer, Selasa (24/11/2020)./Foto: Afgan

“Karena motifnya kan sedikit, dan karena masih pemula jadi cantingannya tidak tembus kain. Jadi yang paling mudah pewarnaannya pakai motif kontemporer,” ujar pengusaha batik asal Desa Gambarsari, Kecamatan Kemangkon itu.

Kelas Belajar Bersama di Museum menghidupkan denyut kehidupan museum yang biasanya lengang. Lebih dari itu, program ini menghidupkan kembali semangat belajar yang diwariskan Prof Dr Soegarda Poerbakawatja. Jika Soegarda masih ada, mungkin dia akan duduk di bangku taman di bawah pohon mahoni sambil tersenyum melihat semangat belajar generasi muda yang menyala-nyala. (afgan)

Related posts