Menyusuri Jejak Soetedja, Komponis Legendaris Banyumas yang Namanya Harum di Ibukota

Ragam428 Dilihat
Pembangunan Taman Budaya Soetedja yang berlokasi di Jalan Pancurawis, Kelurahan Purwokerto Kidul, Kecamatan Purwokerto Selatan. (NS/Purwokertokita.com)

Purwokertokita.com – Langgam keroncong berjudul “Di Tepinya Sungai Serayu” dan Gedung Kesenian Soetedja yang sekarang telah beralih fungsi menjadi Pasar Manis Purwokerto, mengingatkan kita pada nama Raden Soetedja, sang komponis legendaris Banyumas.

Nama Soetedja tetap digunakan sebagai nama gedung kesenian yang kini menjadi Taman Budaya Soetedja yang baru dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas. Taman budaya ini sebagai pengganti Gedung Kesenian Soetedja. Namun, tak banyak orang yang tahu tentang kisah hidup sang legenda yang memiliki nama lengkap Raden Soetedja Purwodibroto ini.

Cukup sulit menyusuri jejak Soetedja di Banyumas, tak banyak catatan maupun kerabat yang bisa ditemui di kota kelahirannya. Salah satu anaknya, Budhy Raharjo, ketika dihubungi mengatakan, dia dan keenam saudaranya telah menetap tinggal di Jakarta sekitar tahun 1950 an.

Menurut Budhy, karier bermusik ayahnya dilanjutkan selama tinggal di Ibukota. Setelah kantor pusat Radio Republik Indonesia dipindahkan dari Purwokerto ke Jakarta, paska pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat. Di sana, Soetedja membentuk grup musik orkes Melati.

“Biasanya tampil di RRI Jakarta. Kadangkala, tampil di sebuah club bernama Wisma Nusantara di pojok Istana Negara. Sekarang bangunannya sudah tidak ada, masuk jadi wilayah Istana Negara itu,” kata Budhy.

Budhy menceritakan, Soetedja gemar minum kopi dan merokok yang menjadi teman setianya ketika hendak menggarap lagu. “Kadangkala, ayah meminta nasi goreng saat merasa lapar di tengah malam,” ujarnya.

Kebiasaan minum kopi dan menyantap nasi goreng tengah malam ini, Budhy menambahkan, dilakukan oleh Soetedja secara terus menerus hingga satu aransemen lagu utuh siap untuk dimainkan.

Kegemilangan karier Soetedja terlihat ketika dia bersahabat dengan Suyoso Karsono seorang perwira Angkatan Udara Republik Indonesia. Suyoso merupakan pendiri label rekaman pertama di Indonesia, dia meminta Soetedja untuk memimpin korps musik di AURI.

“Beberapa tahun kemudian, sekitar 1968, Gubernur Jakarta Ali Sadikin memberikan penghargaan di bidang kesenian bersama WR Supratman, Chairil Anwar, Sanusi Pane dan Amir Hamzah. Waktu itu Hari Ulang Tahun Jakarta ke 441,” tutur Budhy.

Budhy mengenang, dia pernah tampil bersama sang ayah untuk pertama kalinya. Kala itu, drumer band pimpinan sang ayah berhalangan hadir tanpa kabar.

Budhy yang mahir memainkan saksofon ini, menawarkan diri untuk menjadi penggebuk drum.

“Saya bilang sama ayah, dan ternyata boleh. Dicoba, eh jadi. Itu yang paling saya ingat,” ujarrnya.

Kisah perjalanan hidup Raden Soetedja yang melegenda ini, menarik perhatian Bowo Leksono, pegiat Cinema Lovers Comunity (CLC) Purbalingga, dia tengah mencoba melacak jejak Soetedja melalui karya-karyanya.

Menurut Bowo, meski karir puncak Soetedja di Jakarta, pihaknya berusaha untuk mengembalikan asal muasalnya di Banyumas. (NS/YS)

Tinggalkan Balasan