Kelahiran Bayi Raksasa di Cilacap Ini Membuat Petugas Medis Kebingungan

Ragam458 Dilihat
Bayi yang lahir di RSU Duta Mulya Cilacap dengan bobot 5,7 kilogram Minggu malam (16/9). (rs/purwokertokita)

Purwokertokita.com – Bayi raksasa berbobot 5,7 kilogram lahir di Kecamatan Majenang, Cilacap, Minggu (16/9). Uniknya, putri pasangan Asep Hardianto dan Anis Murwati ini dilahirkan secara normal tanpa operasi di Rumah Sakit Umum Duta Mulya, Majenang Kabupaten Cilacap.

Petugas medis dan dokter yang bertugas pun dibuat kebingungan. Sebab, persalinan bayi jumbo memang berisiko tinggi. Salah satunya adalah Dystocia bahu yaitu, kondisi saat kepala bayi sudah keluar, namun bagian bahu si bayi macet lantaran lebar di atas rata-rata. Jika tidak cepat ditangani, kondisi ini membahayakan nyawa bayi maupun ibunya.

“Waktu masuk ternyata sudah bukaan delapan. Bayinya sudah kelihatan dan besar sekali,” ucap Direktur RSU Duta Mulya Majenang, Tatang Mulyana.

Tatang menjelaskan, bayi dengan bobot di atas rata-rata, paling aman bayi dilahirkan melalui operasi sesar. Akan tetapi, petugas medis dan dokter harus mengambil keputusan dengan cepat. Sebab, risiko saat ketuban pecah pun besar. Bayi mesti secepatnya keluar dari rahim ibunya.

Tim medis hanya memiliki sedikit waktu untuk mengobservasi. Si ibu pun belum pernah di USG sehingga tak mengatahui secara pasti bobot dan posisi bayi di dalam rahim.

“Waktu itu saya berfikir, sesar tidak, sesar tidak. Tapi bayinya sudah mau lahir. Tidak ada waktu. Ya sudah, kita berusaha yang terbaik dengan persalinan normal,” ucapnya.

Akhirnya, setelah berjuang nyaris satu jam di antara hidup dan mati, sang ibu dan bayinya berhasil melewati proses persalinan normal dengan gemilang. Dokter dan tenaga medis pun lega. Mereka tinggal merawat ibu dan bayi pasca-kelahiran.

Alhamdulillah, lahir dengan selamat. Ibu sehat, bayinya sehat,” tambah Tatang.

Bayi jumbo ini sekitar pukul 12.20 WIB. Padahal untuk ukuran perempuan Indonesia, sang ibu, Anis bertubuh sedang, dengan tinggi sekitar 155 centimeter. Namun, pekerjaan dokter dan tenaga medis masih belum usai. Mereka harus memeriksa kondisi ibu pasca-bersalin. Setelah itu, kondisi bayi pun mesti diobservasi. Sebab, bayi lahir berukuran jumbo ada risiko penyakit gula darah atau Diabetes mellitus.

Berbeda dengan perlakuan pasien bersalin normal dengan bobot bayi normal, perawatan untuk ibu dan bayi jumbo memang berbeda. Jika normalnya ibu dan bayi boleh pulang setelah 24 jam, khusus bayi jumbo setidaknya mesti 2×24 jam.

“Ibu sehat. Sekarang tinggal bayinya, kami harus mengecek gula darahnya,” ungkapnya.

Tatang menerangkan, ada tiga kemungkinan bayi terlahir jumbo. Pertama lantaran faktor genetik, kedua makanan yang dikonsumsi ibu selama hamil dan pra-hamil, serta yang paling diwaspadai adalah gula darah.

Sang ibu, Anis bercerita, dia sama sekali tak menyangka bakal melahirkan bayi raksasa. Pasalnya, kakak jabang bayi yang belum diberi nama ini lahir dengan bobot normal, meski berbobot 4 kilogram. Sang kakak kini sudah berusia 3,4 tahun dan tumbuh normal lazimnya anak seusianya.

“Saya disarankan untuk langsung bersalin di klinik atau rumah sakit kalau mau melahirkan. Karena katanya bayi saya besar,” dia menerangkan.

Anis menuturkan, saat terakhir memeriksakan kandungan ke bidan di desanya, Cibungur, Kecamatan Wanareja, diperkirakan bayi yang dikandungnya sudah berbobot empat kilogram.

Nyidam Bakso

Dia pun merasa kehamilan kali ini lebih berat dibanding kehamilan sebelumnya. Bahkan nyaris tak bisa beraktivitas lantaran beratnya kandungan. Tetapi, ia tetap memaksakan diri berolahraga dengan cara menyapu atau sekadar jalan-jalan santai di pagi hari.

Anis bercerita, semasa hamil dia menyidam bakso dan kesulitan mengendalikan nafsu makan. Tak hanya membeli, saat ada hajatan tetangga pun, ia pasti memburu baksonya. Kadang, ia juga meminta agar suaminya membeli bakso di pasar untuk kemudian dimasak sendiri di rumah. Dalam sepekan, ia mengonsumsi bakso dua sampai atau tiga kali. Ia juga mengaku bisa makan antara empat hingga enam kali sehari.

“Sudah dibilangin kalau kebanyakan bakso nanti bayinya jadi besar. Tapi jam dua malam bangun. Ya langsung makan. Habisnya lapar sih,” katanya.

Kini sang ayah, Asep, harus direpotkan karena mencari baju yang lebih besar. Popok yang dipersiapkan jauh-jauh hari tentu tak muat untuk anaknya yang berukuran layaknya bayi berusia dua bulanan. (RS/NS)

Tinggalkan Balasan