
Purwokertokita.com – Tidak seperti biasanya, Jumat (20/7) malam, area Exhibition Caping Park, Desa Kebumen, Baturraden dipenuhi oleh masyarakat yang tinggal di sekitar obyek wisata yang tengah populer ini.
Mereka berkumpul di depan layar terkembang, menyaksikan sejumlah film karya pelajar Banyumas Raya yang diputar oleh Armada Layar Tanjleb Festival Film Purbalingga (FFP) 2018.
Malam itu menjadi catatan tersendiri bagi awak FFP. Sebab, biasanya, pemutaran layar tanjleb hanya digelar di desa-desa, bukan di objek wisata.
Direktur FFP, Bowo Leksono mengatakan, layar tanjleb sejatinya tidak dibatasi untuk wilayah desa saja. Pengelola kawasan wisata juga diberi kesempatan apabila ingin memutar film karya pelajar.
“Program Layar Tanjleb FFP selalu menjadi daya tarik, itu yang menyebabkan festival digelar hingga sebulan. Apabila disatukan menjadi paket wisata tentu lebih menarik,” katanya.
Sementara itu, General Manajer Caping Park, Prayitno mengapresiasi perjuangan komunitas film Purbalingga dan Banyumas Raya. Menurutnya, mereka mampu menjaga kualitas dan kuantitas film garapan pelajar. Film-film mereka juga hilir mudik di sejumlah festival tingkat nasional.
“Kami sengaja menggratiskan tiket masuk saat pemutaran film Layar Tanjleb FFP. Sehingga film-film ini bisa dinikmati semua kalangan yang datang,” katanya.
Prayitno juga tertarik ingin ikut memutar film di desa tempat tinggalnya. Tujuannya agar pemuda di desanya termotivasi untuk membuat karya.
“Setelah festival selesai, saya pribadi minta diputar di desa. Barangkali ada pemuda yang terpancing dan berminat untuk membuat film juga,” tambahnya.
Layar Tanjleb FFP 2018 di Caping Park merupakan titik ke 11. Pemutaran film ini masih berlanjut di dua desa di Banyumas dan 5 desa di Purbalingga. (NS/YS)