21 Agu 2021

Blog Post

Lima Tips Agar Kamu Lancar Ngomong Ngapak
Rehat

Lima Tips Agar Kamu Lancar Ngomong Ngapak

Seorang warga menunjukkan mendoan yang dimasak dalam Festival Mendoan di Pratistha Harsa Purwokerto, Minggu (8/11). (Uwin Chandra/Purwokertokita.com)
Seorang warga menunjukkan mendoan yang dimasak dalam Festival Mendoan di Pratistha Harsa Purwokerto, Minggu (8/11).
(Uwin Chandra/Purwokertokita.com)

Purwokertokita.com – Ada yang tertawa saat mendengar kamu ngomong ngapak?, biarin aja kali ya. Orang yang tertawa saat mendengar kamu ngomong ngapak itu berarti orang yang tidak bisa memaknai arti perbedaan.

Istilah ngapak memang sering digunakan untuk menyebut bahasa banyumasan, karena dianggap lucu jadi sering dianggap sebagai sebuah ejekan untuk orang Banyumas. Alasan ini juga yang membuat sebagian orang Banyumas merasa malu saat berbicara dengan bahasa banyumasan.

Meski masih banyak yang meributkan istilah ngapak, pada sisi yang lain sebetulnya ada masalah yang lebih serius, yakni bahasa banyumasan yang terancam punah. Bahasa banyumasan terancam punah karena banyak istilah dalam bahasa banyumasan mulai hilang dan tidak lagi digunakan oleh orang Banyumas dalam kesehariannya.

Entah merasa kehilangan atau tidak, tapi itulah yang terjadi saat ini, perlahan istilah-istilah dalam bahasa banyumasan jarang digunakan dan tidak terwarsikan pada generasi muda sekarang. Sangat disayangkan bukan, jika bahasa banyumasan yang memiliki ciri khas nya sendiri yang berbeda dengan bahasa jawa lainnya, justru semakin jarang digunakan.

Jadi biar kamu lebih lancar saat ngomong ngapak, Purwokertokita.com punya tips nih buat kamu. Lima tips berikut ini bakal bikin kamu lancar ngomong ngapak :

1. Tegas dalam pengucapan vokal

Dalam menggunakan atau mengucapkan bahasa banyumasan, kamu harus tegas dan jelas dalam pengucapan vokal, atau yang sering disebut cetha wela welo. Vokal “a” harus tegas diucapkan “a” dan vokal “o” harus tegas diucapkan “o”. Kalau kamu tidak tegas dalam pengucapan vokal, bisa saja kata yang kamu ucapkan akan bermakna lain jika didengar oleh orang Banyumas.

Baca Juga  Cegah Klaster Baru, Tahanan Polresta Banyumas Dites Swab Antigen

Sebagai contoh kata “lara” yang memiliki padanan kata “sakit” harus tegas diucapkan “lara” tidak boleh berubah menjadi “loro” karena maknanya akan berbeda menjadi “dua”. “Wong lara degotong wong loro” akan memiliki makna yang berbeda jika menjadi “wong loro digotong wong loro”.

Baca juga : Tujuh Istilah Ngapak Ini Sering Bikin Bingung Orang Luar Banyumas

2. Kata awalan “di” menjadi “de”

Kata awalan “di” yang menunjukan kata kerja, jika dalam bahasa banyumasan menjadi “de”, maknanya tetap sama. Sebagai contoh untuk mengucapkan kata “ditendang”, jika dalam bahasa banyumasan menjadi “dedupak” bukan “didupak”.

3. Penegasan kalimat dengan kata “mbok”

Kata “mbok” bagi orang Banyumas biasa digunakan untuk penegasan sebuah kalimat atau juga menunjukkan kalimat tanya. Kata yang paling sering diucapkan oleh orang Banyumas adalah “iya mbok” yang memiliki makna penegasan pada kata “iya” dan memiliki arti “iya kan”.

Contoh lain, “rika wetenge kencot mbok, ngeneh melu madang” yang memiliki arti “kamu perutnya lapar kan?, sini ikut makan”. Bagi orang luar Banyumas, kata “mbok” dinggap sebagai sebuah kekhasan orang Banyumas saat berbicara, karena seringnya orang Banyumas mengatakan “mbok”.

4. Jangan terjebak pada strata bahasa

Baca Juga  Berbagi Sepatu Hingga ke Lereng Gunung Slamet

Saat hendak berbicara dengan orang lain yang kita anggap lebih, entah lebih tua atau kita anggap lebih tinggi kedudukannya. Terkadang kita memikirkan tentang kalimat yang akan kita ucapkan apakah sudah tepat atau belum?, apakah sopan atau tidak?. Hal seperti inilah yang sering membuat orang terjebak dalam strata bahasa.

Bahasa banyumasan adalah bahasa egaliter, yang berarti sama atau sederajat. Penggunaan kata sapaan “rika” yang berarti “kamu” dan “inyong” yang berarti “aku” menunjukan bahwa semua orang kedudukannya adalah sama. Jadi saat berbicara menggunakan bahasa banyumasan, jangan sampai terjebak dengan strata bahasa.

5. Tidak perlu malu dibilang ngapak

Pada awal tulisan ini sudah dijelaskan bahwa tidak perlu malu menggunakan bahasa banyumasan, meskipun sering disebut ngapak. Seharusnya orang Banyumas merasa bangga karena bahasa banyumasan sudah diakui sebagai bahasa sendiri yang berbeda dari bahasa jawa lainnya.

Bagi orang Banyumas yang muslim, pastinya akan lebih bangga lagi dengan bahasa banyumasan. Saat ini sudah ada Al Quran yang diterjemahkan dalam bahasa banyumasan, dan sudah resmi diluncurkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia.

Baca juga : Begini Proses Pembuatan Al Quran Bahasa Banyumasan

Lima tips di atas semoga bisa bermanfaat dan memudahkan kamu saat ngomong dengan dialek banyumasan. Kalau bukan kita yang ikut berperan melestarikan bahasa banyumasan yang menjadi bagian dari kekayaan budaya negeri ini, lalu mau siapa lagi?.

Yudi Setiyadi