Home Komunitas Saat Talenan Tak Lagi Menjadi Alat Memasak

Saat Talenan Tak Lagi Menjadi Alat Memasak

Warga Desa Karanggintung melukis huruf hias pada talenan pada workshop Hand Lettering Karanggintung Sinau 1.0 di Galeri Seni Kampoeng Maen, Oemah Maen Resto, Desa Rempoah, Kecamatan Baturraden, Banyumas, Minggu (7/4). (ns/purwokertokita)

Purwokertokita.com – Talenan ternyata tak sekadar menjadi peralatan memasak. Tempat untuk memotong bahan makanan kini sudah berubah fungsi menjadi perlengkapan dekorasi dinding rumah.

Hal itu dibuktikan oleh pemuda Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang, Banyumas saat mengkuti workshop “Hand Lettering” Karanggintung Sinau 1.0 di Galeri Seni Kampoeng Maen, Desa Rempoah, Kecamatan Baturraden, Banyumas, Minggu (7/4). Pada kegiatan digagas oleh Pemerintah Desa Karanggintung ini, mereka belajar bersama pegiat kreatif asal Desa Kebasen, Kecamatan Kebasen, Budi Haryanto membuat huruf hias dengan menggunakan media talenan dan cat tembok.

Budi menjelaskan, untuk menghias talenan menjadi barang seni bernilai tinggi diperlukan kesabaran dan ketelatenan. Langkah pertama untuk belajar membuat huruf hias dimulai dari membuat satu huruf menjadi 10 karakter berbeda.

“Lalu satu kata dan sebuah kalimat panjang. Kalimat tersebut diukir dengan menggunakan tangan melalui media kertas dan papan kayu talenan,” katanya.

Menurut Budi, saat ini, seni menggambar ornamen kata ini sudah diterapkan di berbagai bidang. Mulai dari pembuatan logo sebuah perusahaan, papan nama ataupun produk yang menggunakan teknik lettering.

Penggunaan talenan sebagai media dekorasi rumah pun sekarang telah menjadi tren. Kedai, kafe atau warung pun sudah mulai membuat papan menu di belakang meja saji dengan seni menggambar huruf ini.

“Sekarang sudah banyak pesanan untuk membuat seni huruf hias Kadang ada pesanan berupa hiasan dinding, papan nama, juga ada untuk keperluan dekorasi mantenan,” ujarnya.

Kepala Dusun 2, Desa Karanggintung, Freddy Setyawan mengatakan, workshop kali sengaja diarahkan untuk mempelajari teknik hand lettering. Sebab, hal ini menjadi salah satu bentuk kreativitas seni yang dapat diaplikasikan untuk kebutuhan membuat merek atau mempercantik kemasan produk yang dihasilkan oleh masyarakat desa.

“Secara sederhana ya dimulai dari menghias alat memasak ini agar menjadi barang seni yang bernilai tinggi,” ujarnya.

Dia menambahkan, ajang Karanggintung Sinau 1.0 ini merupakan program pemberdayaan masyarakat yang bersumber dari dana desa. Sejumlah event workshop dengan tema berbeda bakal digelar setiap bulan. (NS)

 

 

Baca Juga

Film Pelajar Purbalingga Jawara di FFD 2019

TERIMA PENGHARGAAN: Sutradara film “Tambang Pasir”, Sekar Ayu Kinanti (kanan) …