Baturrajazz Bakal Meramaikan Festival Baturraden

Peristiwa43 Dilihat
Salah satu atraksi wisata di Lokawisata Baturraden Banyumas, Cascade Alam, menjadi daya tarik pengunjung yang datang.
Salah satu atraksi wisata di Lokawisata Baturraden Banyumas, Cascade Alam, menjadi daya tarik pengunjung yang datang.

Purwokertokita.com – Masyarakat desa penyangga Baturraden menggagas sebuah konser jazz untuk memeriahkan Festival Baturraden 2015. Konser berlabel “Baturrajazz” tersebut digeber pada Sabtu (17/10) malam.

”Konsep pergelaran jazz yang digagas bersama PMPB (Paguyuban Masyarakat Pariwisata Baturraden) dan Dinporabudpar ini bertujuan untuk menghidupkan suasana keramaian malam di Baturraden,” ujar pemuda Desa Karangmangu, Prayitno, kemarin.

Tanpa meninggalkan kelasnya, lanjut dia, pergelaran jazz itu akan memberi suguhan tersendiri bagi warga, terutama lapisan menengah ke atas. Panggung mini rencananya disiapkan di sekitar Bukit Bintang, area Lokawisata Baturraden.

Prayitno enggan disebut mengekor pada kegiatan serupa di sejumlah tempat. Menurut dia, Baturrajazz menyuguhkan ciri khas sendiri. Sebagai buktinya, dia mengaku telah mengontak sejumlah musikus lokal untuk mendukung acara tersebut.

”Ciri khas itu terletak pada unsur kolaborasi dengan musik tradisional. Para musisi yang diundang, diminta untuk menggarap lagu tradisi ataupun berkolaborasi dengan alat musik tradisional, seperti lengger, calung, ataupun kentongan,” tandasnya.

Baturrajazz, lanjutnya, hampir mirip dengan jazz gunung yang match dengan Baturraden berkolaborasi dengan lengger dan musik modern.

Selain konser jazz, rangkaian Festival Baturraden 2015 ini tetap mengandalkan puncak acara berupa Grebeg Suran pada 18 Oktober mendatang.  Ribuan masyarakat dari 12 desa penyangga Baturraden akan mengikuti tradisi tahunan tersebut.

Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Dinporabudpar Banyumas Deskart Sotyo Jatmiko mengemukakan, tahun ini festival tahunan itu tetap mempertahankan agenda rutin. Selain Grebeg Suran, acara ini juga akan diramaikan dengan pementasan budaya selama dua hari berturut-turut.

Rangkaian acara dimulai dari pelaksanaan ritual mimiti sebagai permohonan untuk keselamatan pada 12 Oktober.

“Grebeg Suran masih menghadirkan pawai tenong dan gunungan oleh masyarakat dari 12 desa penyangga Gunung Slamet,” ujarnya

Sukmana Nugraha

Tinggalkan Balasan