Home Kolom Resensi Buku Kedaulatan Rakyat vs Kedaulatan Sponsor

Resensi Buku Kedaulatan Rakyat vs Kedaulatan Sponsor

Cover buku Menegakkan Kedaulatan Rakyat. (Dokumentasi Mulyono)

Buku : Menegakkan Kedaulatan Rakyat
Penulis : Ahmad Sabiq ,MA
Penerbit : Pustaka Ilmu Yogyakarta
Tahun : 2016

Wajahnya teduh, seteduh isi tulisan maupun kata katanya saat mengupas analisis politik baik di media cetak maupun layar kaca. Karya-karyanya bertebaran di berbagai media cetak baik lokal, regional, nasional dan internasional.

Lelaki kelahiran Magelang, 12 februari 1976 dengan nama lengkap Ahmad Sabiq MA sangat menyukai kajian politik terutama kosentrasi bidang partai, pemilu, perwakilan dan pembangun masyarakat.

Ahmad Sabiq MA adalah Dosen FISIP Unsoed Purwokerto, menapaki kariernya menjadi staff pengajar sesudah menyelesaikan studinya pada Jurusan Ilmu Pemerintahan FSIPOL UGM Yogyakarta tahun 2000.

Tahun 2005 berhasil meraih MA di Institute of Social Studies, The Hague The Netherland yang kini berubah nama menjadi International Institute of Social Studies of Eramus University Roterdam.

Karirnya cukup melesat di Jurusan Ilmu Politik, di tengah usia yang tergolong muda dengan menduduki Ketua Divisi Laboraturium Ilmu Politik dan juga Ketua Jurusan. Bintangnya terus bersinar diberi amanah menjadi Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FISIP Undoed Purwokerto.

Salah buku karya Ahmad Sabiq terbaru adalah buku “Menegakkan Kedaulatan Rakyat: Demokrasi dan Dinamika Poiitik Elektoral di Indonesia terbitan Pustaka Ilmu Yogyakarta tahun 2016..

Buku Menegakkan Kedaulatan Rakyat merupakan kompilasi sebagian besar artikel tulisan Ahmad Sabiq MA di Kolom Analisis Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta. Harian Kedaulatan Rakyat termasuk salah satu koran tertua di Indoensia sejak zaman kemerdekaan bersama Pikiran Rakyat Bandung dan koran lainnya yang masih tetap eksis sampai saat ini.

Isinya sangat menarik mengupas perkembangan dan dinamika demokrasi yang begitu pesat sejak era reformasi dengan tumbuhnya partai politik yang sempat redup pada masa Orde Baru,.

Tumbuh dan berkembangnya partai poltik dari pusat sampai tingkat paling bawah di pedesaan meningkatkan peran dan fungsi partai politik sebagai alat komunikasi, agregasi, rekrutmen pendiikan dan lainnya membuat ruang demokrasi semakin berkembang.

Demokrasi yang kita pahami selama ini adalah pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Itu berarti hakikat demokrasi adalah Kedaulatan Rakyat. Sesungguhnya rakyatlah yang pemegang kekuasaan tertinggi.

Namun dalam perjalanan praktiknya tak seindah dalam teks-teks teori dan aturan yang ada. Karena dalam proses pemilihan umum, pilkada, pilpres banyak terjadi penyimpangan dengan menjadikan uang sebagai panglina untuk membeli suara yang didalangi oleh para cukong, bandar dan sponsor terutama kaum berduit memengaruhi keterpilihan seseorang.

Pemilihan langsung dengan sebaran wilayah yang cukup luas membutuhkan biaya politik yang sangat besar. Ketimpangan kekuatan finansial dan logistik menjadi titik lemah peserta Pilkada, Pileg dan Pilpres.

Politik Transaksaional menjadi ancaman serius menguras bangunan demokrasi yang tengah dibangun dan dapat memorak-porandakan sendi kehidulan berbangsa dan bernegara.

Ironi demokrasi yang diagungkan tak kunjung signifikan denga tujuan demokrasi itu sendiri, yaitu kesejateraan. Oleh karena proses elektoral berjalan dengan politk uang atau transaksional jauh dari cita-cita luhur demokrasi itu sendiri.

Indonesia dengan populasi pemilih yang cukup besar menempati negara demokrasi terbesar ketiga di dunia sesudah Amerika Serikat dan India. Sangat potensal menghadirkan demokrasi yang jauh lebih baik jika proses elektoral berlangsung langsung, jujur, adil dan rahasia .

Sebagaimana negara-negara yang baru membangun demokrasi, Indonesia membutuhkan perbaikan-perbaikan dari waktu ke waktu sesuai dengan dinamika politik yang terus berkembang baik lokal, regional, nasional maupun internasional yang saling memengaruhi.

Perbaikan meliputi kualitas dan manajemen parpol, sistem pemilihan, regulasi, pengawasan dan peningaktan sumber daya manusia yang terlibat dalam pembangunan demokrasi agar kedaulataan rakyat berjalan sesuai dengan prosedur yang berlaku dengan menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Buku Menegakkan Kedaulatan Rakyat karya Ahmad Sabiq secara garis besar dikelompokkan menjadi lima tema besar, yaitu :

  1. Problematika Partai Politik
  2. Pemilu dan Persoalannya
  3. Masalah-masalah Perwakilan
  4. Potret Kontestasi Elektoral
  5. Politik Ekektoral di Aras Lokal.

Buku dengan tebal 168 halaman sangat menarik untuk dbaca dan menjadi referensi pengurus parpol, akademisi, birokrasi, mahasiswa dan masyarakat menjadi tambahan pengetahuan apalagi mendekati Pilkada Serentak 2018 dan Pileg serta Pilpres 2019.

Potret demokrasi yang telah, sedang dan akan berlangsung di Indonesia dijabarkan sangat rinci dengan pernak-perniknya. Sehingga pembaca akan mudah menemukan tema partai politik, politik lokal, poliitik nasional dengan kajian yang sangat dalam ditulis dengan bahasa yang renyah mudah dimengerti semua pembaca, dibalut literatur dan referensi penulisan yang berkualitas.

Penulis
Mulyono Harsosuwito Putra
Ketua Institut Studi Pedesaan dan Kawasan

Baca Juga

Kenormalan Baru & Bahaya Laten Kapitalisme

Hukum pertumbuhan ekonomi telah membuat kapitalisme melakukan ekspansi terus-menerus terma…