Tarian Dewi Sri dan Semangat Menjaga Kearifan Lokal

Ragam801 Dilihat
Mahesa Wahyu Sari (22), warga RT 2 RW 2 Desa Wlahar Wetan, tampil memerankan Dewi Sri pada Festival Seni Budaya Pertanian Wlahar Wetan, Minggu (19/8). (AAR/Purwokertokita.com)

Purwokertokita.com – Matahari sudah cukup tinggi di sebelah timur, alunan suara gamelan terdengar dari satu sudut lapangan Desa Wlahar Wetan, Kecamatan Kalibagor, Banyumas. Di sisi-sisi lapangan, delapan belas gubuk didirikan, lengkap dengan hiasan orang-orangan sawah.

Minggu (19/8), masyarakat Desa Wlahar Wetan yang sebagian besar menjadi petani, menggelar Festival Seni Budaya Pertanian Wlahar Wetan. Festival ini sebagai bentuk rasa syukur atas bibit padi yang ditanam para petani telah menjadi jaminan kelangsungan hidup warga Desa Wlahar Wetan usai masa panen.

Di tengah suasana yang kental dengan pertanian, Mahesa Wahyu Sari (22), warga RT 2 RW 2 Desa Wlahar Wetan, tampil memerankan Dewi Sri, tokoh kahyangan simbol pelindung kelahiran dan kehidupan yang mengendalikan bahan makanan di bumi terutama padi.

Dengan balutan busana hijau dan rambut yang disanggul berhias ronce melati, Mahesa mengenakan selendang berwarna kuning yang dililitkan di pinggang. Dia menjadi pusat perhatian, lantaran tarian yang dia bawakan menjadi acara inti pada Festival Seni Budaya Pertanian Wlahar Wetan.

“Sudah sejak bulan Juli, saya berlatih tarian Dewi Sri bersama anak-anak dan ibu-ibu di kampung. Kalau di pertunjukan pertama tadi, bersamaan pembacaan legenda Dewi Sri saya memainkan tari Baladewa,” kata Mahesa.

Alumnus Pendidikan Seni Tari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang ini tidak tampil sendiri. Mahesa juga mendampingi puluhan anak-anak dan ibu-ibu membawakan tari Dewi Sri secara kolosal.

Festival seni pertunjukan rakyat ini menggambarkan sebuah pesta, warga Desa Wlahar Wetan tengah berpesta merayakan kebanggaan mereka sebagai petani.

Suwito (51), Ketua RT 8 Grumbul Tambangan, Desa Wlahar Wetan mengatakan, dia memaknai Festival Seni Budaya Pertanian Wlahar Wetan, sebagai ekpresi rakyat kecil bahwa pertanian dan lahan subur di desa adalah berkah yang patut dijaga dan dipertahankan.

“Anak-anak kami yang kecil-kecil juga terlibat dalam acara ini. Acara ini kan menyenangkan, secara gak langsung anak-anak menyadari sejak dini pertanian jadi tumpuan hidup orang tua mereka. Jadi mereka tahu manfaat pertanian”, ujar Suwito.

Festival yang mengangkat tema “Desaku Mandiri Harapanku Sejahtera” ini, baru pertama kali digelar di Desa Wlahar Wetan. Digelar sejak Minggu (19/8) sampai Senin (20/8), acara kebudayaan nampak kental mulai dari tari kolosal Dewi Sri, tari tradisional ebeg, lomba kidung Jawa sampai pentas wayang kulit.

Kepala Desa Wlahar Wetan, Dodiet Prasetyo mengungkapkan, seni tradisi bernuansa agricultural ceremonies diangkat untuk mengampanyekan pemanfaatan alam dengan semangat menjaga kearifan lokal.

Di Desa Wlahar Wetan, menurut Dodiet, para petani secara bertahap telah memulai sistem pertanian organik berbasis kemandirian. Salah satu varietas padi lokal yang telah ditanam oleh para petani yakni jenis Menthik Susu.

“Saat ini ada 15 hektare yang menerapkan pertanian organik. Panen perhektare untuk saat ini baru 4 ton. Idealnya bisa 8 ton perhektare,” ujar Dodiet.

Memiliki wilayah seluas 365 hektare, 120 hektare di antaranya adalah lahan pertanian. Dari 3500 jiwa penduduk Desa Wlahar Wetan, hampir 80 persennya hidup dari sektor pertanian. Pertanian tak bisa disangkal telah jadi denyut nadi kehidupan warga.

Melalui seni pertunjukan rakyat ini, kata Dodiet, diharapkan regenerasi petani di Desa Wlahar Wetan tergerak untuk menjangkau peningkatan mutu hasil pertanian, sembari menjaga kearifan lokal tanpa merusak alam. (AAR/YS)

Tinggalkan Balasan