Dennis Adhiswara: Ini Kayak Pulang Kampung

Ragam424 Dilihat
Dennis Adhiswara (Uwin Chandra/Purwokertokita.com)
Dennis Adhiswara (Uwin Chandra/Purwokertokita.com)

Purwokertokita.com – Masih ingat Dennis Adhiswara? Pemeran Mamet dalam film layar lebar yang pernah booming di tahun 2002 silam, Ada Apa Dengan Cinta, kini memiliki kesibukan yang tak beranjak jauh dari dunia film.

Ditengah kesibukannya dalam aktivitas tersebut, pria kelahiran Malang 33 tahun silam ini menyempatkan hadir dalam agenda temu komunitas film Indonesia 2016 di Baturraden Banyumas Jawa Tengah.

Pembuat film “El Meler” yang pernah ngetop di kalangan komunitas film pendek pada awal milenium dan dilanjutkan dengan karya selanjutnya “Kwalitet 2” ini hadir dengan semangat berbagi kepada generasi baru komunitas film.

Dennis didaulat mengisi kelas distribusi dan teknologi, yang berkutat pada perkembangan distribusi film pendek atau film independen melalui beberapa platform video online.

Temu komunitas film, bagi Dennis membuatnya mengingat kembali ke masa awal temu komunitas yang pernah diikutinya pada 2001 silam. Kali ini tim Purwokertokita.com melakukan wawancara eksklusif dengan Dennis Adhiswara di tengah dinginnya hawa Baturraden saat mendekati tengah malam pada Sabtu (26/3) lalu.

Dennis bercerita tentang perbedaan temu komunitas yang pernah diikutinya pada 15 tahun silam hingga kegelisahannya terhadap lembaga sensor film yang menjadi simbol status quo. Berikut petikan wawancaranya bersama jurnalis Purwokertokita.com, Aris Andrianto dan Uwin Chandra.

Purwokertokita.com (PKDC): Apa Arti penting Temu Komunitas Film Indonesia 2016 ?

Dennis Adhiswara (DA): Terakhir saya itu datang ke temu komunitas tahun 2001, bagi saya ini kayak pulang kampung. Sebagai filmmaker, hari ini saya seperti pulang kampung. Karena bagaimana pun saya masuk ke industri itu ya thanks to komunitas.

Hari ini, saya diminta untuk share ke generasi baru film indonesia, komunitas yang sekarang untuk ngintip apa yang di industri di hari ini terus ke depannya bakal seperti apa. Makanya, tadi saya masuk bikin kelas namanya distribusi dan teknologi.

PKDC: Perkembangan distribusi film dibanding 15 tahun yang lalu seperti apa?

DA: Setiap masa pasti punya challenge-nya masing-masing, kalau tahun 2001 lebih kepada gimana caranya kita bisa menjangkau ke penonton sebanyak-banyaknya dari sebuah film. Kalau perlu bikin pemutaran kayak gini, harus sering pemutaran di kota-kota.   Kalau di tahun sekarang nggak terbatas offline saja. Tapi juga online.

PKDC: Adakah keinginan untuk membuat penayangan video di luar youtube?

DA: Untuk platform penayangan video saya sudah mempercayakan yang ada sekarang. Youtube sudah menjadi market leader, vidsee pun menurut saya juga market leader di lingkungan film-film yang arthouse. Nah, maka sekarang tugas saya dengan layaria, kantor saya, membuat sebuah platform yang justru mendukung para kreator dan filmmaker supaya bisa berkarya lagi.

PKDC: Animo kreator dan filmmaker seperti apa?

DA: Lumayan sih, kita bikin lomba semingguan dua mingguan pasti terkumpul 40 sampai 50 video. Sistem di platform saya, layaria.com namanya, saya kasih lomba, sama saya kasih potensi sponsor. Sponsor yang sediakan uang, kayak “Hei kita ada uang sekian puluh juta untuk bikin iklan video di youtube. Kalian ada yang punya ide nggak ada yang mau dibikin seperti apa?”

Nah, untuk tahu syarat-syaratnya kayak gimana, harus sign-in dulu. Untuk kita nilai, harus signin dulu, tapi platform yang digunakan bisa lewat instagram dan lewat youtube atau facebook video. Tetapi, kita lebih seneng saat ini pake youtube karena bagus buat portfolio untuk yang seneng berkarya dan seneng karyanya dilihat.

PKDC: Semangat temu komunitas film Indonesia 2016, seperti apa?

DA: Dibandingkan Tahun 2001, ini jauh lebih banyak dan lebih besar. Tahun 2001, kami paling hanya bisa kumpulkan seperdelapannya saja. Tetapi, teman-teman panitia dan penyelenggara hari ini bagus banget. Saya kira gerakan seperti ini harus selalu ada dan tidak kendor semangat temen-teman.

PKDC: Beberapa waktu lalu, berembus kebijakan sensor untuk film yang akan diputar di festival komunitas, menurut Anda?

DA: Bagi saya pribadi, (lembaga) sensor film yang sekarang sudah masuk Komisi I (DPR-RI) dalam ranah pertahanan keamanan, pandangan itu menurut saya sangat kuno. LSF itu institusi kuno, institusi Orba yang sedang mengira dirinya sedang berada di zaman Orba.

Saya lebih setuju kalau lembaga sensor film berubah bentuk menjadi lembaga klasifikasi. Lembaga klasifikasi itu lebih bertugas memberikan rating berdasar umur dari segi konten film. Kalau misal, film berdarah-darah ya 17 tahun keatas. Kalau filmnya aman dan bisa dikonsumsi anak-anak, ya bisa buat semua umur.

Tinggalkan Balasan