Pekan Menegangkan di Pulau Nusakambangan

Peristiwa666 Dilihat
Suasana hiruk pikuk di Kejaksaan Negeri Cilacap Jawa Tengah jelang eksekusi mati tahap tiga di Pulau Nusakambangan. Anggota keluarga, tim pengacara terpidana mati mendatangi gedung tersebut , Selasa (27/7). (Uwin Chandra/Purwokertokita.com)
Suasana hiruk pikuk di Kejaksaan Negeri Cilacap Jawa Tengah jelang eksekusi mati tahap tiga di Pulau Nusakambangan. Anggota keluarga, tim pengacara terpidana mati mendatangi gedung tersebut , Selasa (26/7). (Uwin Chandra/Purwokertokita.com).

Purwokertokita.com – Lalu lalang kendaraan terlihat jelas di gedung Kejaksaan Negeri Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (26/7). Sesekali beberapa kendaraan roda empat hingga bus terparkir di halaman gedung Kejari Cilacap.

Kegiatan bongkar muat kotak plastik yang berisi ratusan lembar data dan informasi yang dibawa beberapa orang, juga menjadi pemandangan yang umum terlihat, jelang pelaksanaan eksekusi mati tahap tiga di Pulau Nusakambangan.

“Ada jaksa penuntut umum yang datang ke sini (Kejari Cilacap),” kata salah satu peliput yang ikut mengamati hiruk pikuk keramaian.

Meski siang di Cilacap cukup terik, hiruk pikuk masih terus terlihat. Kerumunan orang yang disinyalir keluarga terpidana mati. Sesekali, peliput dari media elektronik dan cetak mengabadikan aktivitas yang lazim terlihat jelang eksekusi mati di dua tahap sebelumnya.

Pun beberapa pendamping hingga keluarga dan kerabat terpidana eksekusi mati juga ikut terlihat di halaman gedung. Sekitar pukul 10.30 WIB, satu staf kedutaan besar menggunakan mobil Inova hitam bernomor plat CD 13, yang belakangan diketahui merupaka nomor plat korps diplomatik kedutaan India, merapat.

Sosok laki-laki berkulit terang mengenakan baju batik keluar dari mobil dan bergegas menuju gedung Kejari Cilacap. Kacamata yang menggantung di hidung bagian atasnya turut menyiratkan gurat ketegangan.

“Ini dari India mas, katanya akan melihat proses soal salah satu warganya yang memang menjadi terpidana mati. Katanya, tidak dieksekusi pada tahap ini,” kata sopir staf kedutaan India.

Mendekati adzan dzuhur, berangsur-angsur beberapa mobil meninggalkan Kejari Cilacap. Tanpa banyak bicara mereka langsung masuk kendaraan dan menuju Dermaga Wijayapura, salah satu pintu resmi menuju Dermaga Sodong di Pulau Nusakambangan.

Tak berapa lama, setibanya di Dermaga Wijayapura rombongan turun dari mobil menuju ruang pemeriksaan. Pagar besi raksasa, yang baru beberapa bulan dibangun, perlahan terlipat satu per satu membuka untuk memberi jalan masuk kendaraan yang akan menyeberang ke Pulau Nusakambangan.

Sejumlah awak media berusaha mendapatkan momen saat sejumlah keluarga dan kerabat terpidana yang akan dieksekusi mati di Pulau Nusakambangan menyeberang dari Dermaga Wijayapura, Cilacap. (Uwin Chandra/Purwokertokita.com)
Sejumlah awak media berusaha mendapatkan momen saat sejumlah keluarga dan kerabat terpidana yang akan dieksekusi mati di Pulau Nusakambangan menyeberang dari Dermaga Wijayapura, Cilacap. (Uwin Chandra/Purwokertokita.com).

Puluhan awak media yang sejak pagi berada di sekitar Dermaga Wijayapura membidik tamu yang hendak menyeberang ke beberapa lembaga pemasyarakatan di pulau penjara tersebut. Beberapa di antaranya, menyeberang menggunakan kapal pengayoman milik Kementrian Hukum dan HAM yang melayani tetamu lapas.

“Kami tidak bisa masuk ke LP, karena dilarang petugas. Akhirnya setelah sampai Dermaga Sodong, kami kembali lagi ke sini,” ujar aktivis HAM, Ursa Supit yang sejak eksekusi mati tahap pertama aktif menyuarakan keadilan bagi korban terpidana mati.

Lebih Rumit

Ursa menyebut, kali ini persoalan penetapan eksekusi mati tahap tiga lebih rumit dibanding gelombang sebelumnya. “Ribet banget sekarang, saya masih menunggu pengumuman dari Kejaksaan Agung,” ujarnya saat ditemui.

Ia mengakui, hingga kini belum jelas adanya pengumuman pasti mengenai daftar terpidana mati yang akan menjalani eksekusi mati. “Semuanya jadi serba ribet. Karena memang tidak jelas,” ujarnya.

Sementara itu, rombongan keluarga, jaksa dan juga utusan pemerintah serta staf kedutaan besar menuju beberapa tahanan terpidana mati yang ada di Pulau Nusakambangan. “Tadi sempat terdengar ada terpidana mati dari Nigeria yang teriak marah,” ujar sumber yang ada dalam rombongan tersebut.

Maklum saja, notifikasi atau pemberitahuan eksekusi mati tahap tiga sudah mulai disampaikan kepada terpidana mati yang sudah masuk dalam ruang isolasi. Dari informasi yang ada, ruang isolasi berada di Lapas Batu dan Lapas Besi.

“Saat itulah, biasanya para terpidana mati diberikan kesempatan untuk menyampaikan permintaan terakhir,” jelas sumber tersebut.

Selain persiapan dari dalam Lapas, Kepolisian Resor (Polres) Cilacap juga mulai menyiapkan personel untuk melakukan pengamanan jelang eksekusi. “Sekitar seribuan lebih personel disiapkan untuk mengamankan jalannya eksekusi tahap tiga,” ujar Kepala Sub Bagian Humas Polres Cilacap, Ajun Komisaris Polisi R Bintoro Wasono.

Ia mengemukakan, kekuatan personel tersebut berasal dari personel Polres Cilacap dan juga polres terdekat dari Cilacap. Inspeksi dan pengamanan mulai meningkat, tatkala kedatangan Kepala Biro Operasi Polda Jawa Tengah Komisaris Besar Tatang, merapat ke Dermaga Wijayapura.

pengamanan pulau nusakambangan
Sejumlah petugas mendampingi inspeksi yang dilakukan Kepala Biro Operasi Polda Jawa Tengah, Kombes Tatang di Dermaga Penyeberangan Wijayapura Cilacap. Menurut rencana, pada Rabu (27/7), akan dilakukan sterilisasi di wilayah tersebut. (Uwin Chandra/Purwokertokita.com)

Selama beberapa menit, rombongan dari Polda Jateng didampingi Kepala Polres Cilacap, Ajun Komisaris Besar Ulung Sampurna Jaya melakukan inspeksi. “Kemungkinan besar, Rabu (27/6), akan ada pengaturan parkir mobil dan nanti akan disterilisasi,” lanjut Bintoro.

Kesiapan juga dilakukan tim teknis pemulasaraan. Seorang pengurus Gereja Kristen Jawa (GKJ) Cilacap, Suhendro Putro mengemukakan, pihaknya sudah menyiapkan enam orang untuk pemulasaraan bagi terpidana mati beragama Kristen.

“Untuk yang beragama Katolik nanti beda lagi, karena berasal dari gereja katolik. Kalau yang Islam, biasanya diurus oleh Pak Hasan Makarim (pembimbing rohani Islam bagi terpidana muslim di Lapas Nusakambangan),” ujarnya.

Diakuinya, eksekusi tahap tiga, pihaknya tidak dilibatkan dalam pembuatan peti mati. “Tahap satu dan tahap dua, pemesanan peti mati dilakukan lewat kami. Tetapi saat ini tidak,” jelasnya.

Senada dengan Suhendro, Ketua Yayasan Ekapralaya Purwokerto, Fam Tsu Tjung mengemukakan sempat didatangi orang yang bertanya memesan peti mati.

“Tetapi itu sebelum bulan puasa. Sekarang malah tidak ada kelanjutannya. Kalau pun kami diminta untuk memenuhi kebutuhan peti mati dalam waktu dekat, kami tidak sanggup,” ujarnya.

Dari informasi yang dihimpun, saat ini pihak polisi sudah menyiapkan peti mati untuk eksekusi tahap tiga. Informasi tersebut menyebut adanya 16 peti mati yang dipesan.

suasana dermaga wijayapura
Suasana dermaga penyebrangan Wijayapura Cilacap saat eksekusi mati tahap tiga terhadap terpidana kasus narkoba di Pulau Nusakambangan, Selasa (26/7). (Uwin Chandra/Purwokertokita.com)

Beredar pula informasi yang menyebutkan 14 terpidana mati akan dieksekusi dalam waktu dekat ini. Meski begitu, informasi tersebut belum bisa dikonfirmasi, lantaran beberapa pejabat yang berwenang memilih menunggu pengumuman dari kejaksaan agung mengenai waktu dan jumlah terpidana mati yang akan dieksekusi.

Selain itu, eksekusi mati akan dilaksanakan pada pekan ini. Lokasi eksekusi diperkirakan dilaksanakan di Lapangan tembak Tunggal Panaluan yang berada tak jauh dari pos polisi Pulau Nusakambangan. Sementara itu, Koordinator Kepala Lapas di Pulau Nusakambangan, Abdul Aris mengaku belum tahu waktu pelaksanaan eksekusi mati tahap tiga.

“Yang jelas kami siap jika sewaktu-waktu pelaksanaan eksekusi mati dilakukan di Pulau Nusakambangan,” katanya beberapa waktu lalu.

Tinggalkan Balasan