Home Lingkungan Kenapa Kawah Sileri Dieng Kerap Meletus Tiba-tiba? Ini Jawabannya

Kenapa Kawah Sileri Dieng Kerap Meletus Tiba-tiba? Ini Jawabannya

Kabut tipis menutupi Desa Dieng Kulon dan kompleks Candi Arjuna di Dieng Banjarnegara, Ahad (2/8/15). (Aris Andrianto/Purwokertokita.com)

Purwokertokita.com – Minggu (8/4), Kawah Sileri di Dataran Tinggi Dieng yang berlokasi di Desa Kepakisan Kecamatan Batur, Banjarnegara kembali meletus. Letusan kali ini menyemburkan lumpur dan material vulkanik lainnya setinggi 50 meter dan melontarkan material sejauh 20 meter dari bibir kawah.

Letusan ini sama dengan letusan-letusan sebelumnya, yakni jenis letusan freatik. Seperti sifatnya, letusan freatik terjadi tanpa ada tanda-tanda peningkatan aktivitas.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Dieng, Surip mengatakan, Kawah Sileri memang bertabiat meletus secara tiba-tiba nyaris tanpa pertanda. Seperti letusan kali ini, tidak ada tanda peningkatan aktivitas kegempaan atau vulkanik.

Menurut Surip, material Kawah Sileri terdiri dari lumpur pekat dan cairan. Gelembung gas hasil aktivitas vulkanik selalu keluar dari dapur magma.

Dalam kondisi normal, gas yang terdiri dari Co2, H2S dan SO2 keluar dalam bentuk gelembung-gelembung kecil yang meletup dan ditandai dengan keluarnya asap tipis.

Pada satu waktu, ada kalanya gelembung gas itu terperangkap di bawah lapisan lumpur kawah. Gelembung-gelembung gas tersebut kemudian bergabung dan menciptakan konsentrasi tinggi dan berkekuatan besar.

Pada puncaknya, gas akhirnya menyembur keluar dan mendorong material yang memerangkapnya. Letupan gas pun berubah menjadi letusan yang relatif besar.

“jenis letusan freatik memang selalu seperti itu,” ujar Surip, Minggu (8/4).

Kawah Sileri hanya lah satu di antara delapan Kawah Aktif di Dataran Tinggi Dieng yang sebenarnya merupakan Kaldera Raksasa Gunung Purba. Pada masa lalu, kawah ini pernah menyebabkan jatuhnya ratusan korban jiwa. Pada tahun 1944, 117 warga Dusun Jaweran meninggal dunia akibat erupsi Kawah Sileri. Dusun ini, diperkirakan berjarak 500-an meter dari Kawah Sileri.

Kemudian, pada 1964, Kawah Sileri kembali meletus dan menyebabkan 114 orang. Saat itu, batu seberat 1,5 kilogram dan material lainnya terlontar hingga ratusan meter. Titik terjauh material lontaran material, berdasar penelitian, adalah sejauh 2 kilometer.

Letusan yang terjadi pada 8 April 2018 kali ini juga terbilang memiliki rentang waktu yang pendek. Letusan ini hanya berjarak sepekan dari letusan sebelumnya pada 1 April 2018. Tahun lalu, kawah Sileri juga meletus pada 2 Juli 2017.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, Arif Rachman mengatakan, letusan yang terjadi kali ini memang lebih kecil dari letusan sebelumnya.

Namun, Arif meminta agar warga setempat dan wisatawan lebih waspada. Pasalnya, kawah yang pernah erupsi besar pada masa lalu ini bisa saja meletus lebih besar dan berbahaya.

“Ini memang lebih kecil jika dari letusan sebelumnya. Tetapi kami imbau masyarakat tetap waspada,” kata Arif. (RS/YS)

Baca Juga

Jijik Tapi Bermanfaat, Air Liur Bisa Jadi Pupuk Organik

Purwokertokita.com – Air liur manusia bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik? Ya, P…