Memotret Pembukaan Lahan Pertanian di Kawasan Hutan Dieng

Peristiwa892 Dilihat
Lahan pertanian di perbatasan dengan hutan Gunung Prau Dieng
Potret lahan pertanian di bekas hutan Dataran Tinggi Dieng, beberapa waktu yang lalu. /Foto: Jack

PURWOKERTOKITA.COM, WONOSOBO-Bicara Dataran tinggi Dieng bukan hanya menyoal wisata. Wilayah yang menjadi hulu sungai Serayu itu merupakan daerah resapan air yang perlu dijaga. Ribuan hektar hutan lindung menghampar di kawasan gunung api itu. Penanaman kentang yang masif turut mengancam kelestarian hutan.

Aksi pembalakan hingga pembukaan lahan di kawasan hutan jadi ancaman. Seorang aktivis peduli lingkungan dari Kecamatan Kejajar yang enggan disebut namanya menunjukkan bukti adanya pembukaan lahan di kawasan hutan.

Bahkan, pemandangan itu terlihat jelas melalui jalur pendakian Gunung Prau via basecamp Kalilembu. Di sebelum pos 1, ada beberapa titik lahan yang ditanami cabe gendot yang merupakan tanaman semusim. Sebagian berada di antara tanaman Terong Belanda atau di bawah tegakan.
Ada pula lahan yang terlihat terbuka, seperti usai dibajak dan siap ditanami.

Isya khawatir, penanaman tanaman semusim di hutan lindung bisa mengancam kelestarian hutan hingga memicu bencana. Ia juga khawatir pembukaan lahan di hutan semakin mendekat dan mengancam sumber mata air Serayu yang menghidupi masyarakat di sejumlah daerah.

“Dekat situ ada sumber mata air vital, hulu Sungai Serayu,”katanya

Lahan terbuka di kawasan hutan Gunung Prau KPH Kedu UtaraTerpisah, Asper Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Wonosobo Joko Supriyanto mengatakan, ada 2535 hektar hutan di dataran tinggi Dieng, khususnya di Wonosobo yang masuk wilayah KPH Kedu Utara. 2047 hektar di antaranya berstatus hutan lindung. Sisanya adalah hutan produksi.
Selainnya, hutan lindung di dataran tinggi Dieng masuk wilayah KPH Banyumas Timur dan KPH Pekalongan.

Di KPH Kedu Utara, hutan lindung menghampar antara lain di Gunung Prau, Gunung Bismo, Gunung Pakuwojo dan Gunung Krajan.

Ia memastikan tidak ada aktivitas pertanian di wilayah hutan lindung. Menurutnya, pembukaan banyak destinasi wisata, khususnya wisata pendakian berhasil menakan aksi pembalakan dan pembukaan lahan hutan untuk pertanian semusim.

Tinggalkan Balasan