local media summit

Kemarau, Petani Cilacap Bekerja di Pengolahan Ubur-Ubur
Peristiwa

Kemarau, Petani Cilacap Bekerja di Pengolahan Ubur-Ubur

Pekerja di pengolahan ubur-ubur yang berlokasi di Pelabuhan Perikana Samudera Cilacap, Jawa Tengah menunjukkan ubur-ubur yang sudah dipisahkan.  (Uwin Chandra/Purwokertokita.com)
Pekerja di pengolahan ubur-ubur yang berlokasi di Pelabuhan Perikana Samudera Cilacap, Jawa Tengah menunjukkan ubur-ubur yang sudah dipisahkan.
(Uwin Chandra/Purwokertokita.com)

Purwokertokita.com – Musim kemarau panjang yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, memaksa petani di Cilacap, Jawa Tengah bekerja di tempat pengolahan ubur-ubur. Pilihan tersebut dilakukan untuk menyambung hidup mereka, sembari menunggu datangnya masa tanam.

Seorang petani dari Kesugihan Cilacap, Sidul (53) mengaku menjadi buruh lepas di tempat pengolahan ubur-ubur yang berlokasi di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC). “Karena sekarang sawah sudah kering dan ternyata sedang panen ubur-ubur, lebih baik bekerja di sini. Lumayan ada pemasukan dari sini untuk menyambung hidup. Biasanya sehari bisa dapat sampai Rp 50 ribu,” katanya, beberapa waktu lalu.

Pekerjaan Sidul di tempat pengolahan ubur-ubur sehari-hari mengangkat hasil panen dari pagi hingga sore. Sidul mengemukakan di tempat kerjanya sementara ini ada beberapa buruh tani yang ikut bekerja. Sementara itu, Tanti (45) yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani bekerja di tempat yang sama. Ia bertugas memisahkan bagian topi dan kaki ubur-ubur.

Baca Juga  Cara Purbalingga Tekan Ketimpangan Gender dan Kekerasan Pada Anak

Tangan terampil Saroh seperti terbiasa melakukan tugas yang tergolong agak menyulitkan ini. Diakuinya, tidak ada kendala dalam melakukan pekerjaan tersebut karena sudah terbiasa. “Sudah tiga minggu terakhir ini saya bekerja di sini, lumayan untuk mendapat uang tambahan,” ujarnya.

Saroh mengaku dalam sehari mendapatkan uang dari hasil bekerjanya sebanyak Rp 35 ribu. Diakuinya, penghasilan pekerja musiman seperti yang dilakukannya saat ini sangat bervariasi tergantung jenis pekerjaannya. “Kalau saya ya mendapat Rp 35 ribu untuk pekerjaan memisahkan topi dan kaki ubur-ubur, kalau yang lelaki agak lebih besar sedikit karena harus ikut menggotong ubur-ubur yang akan diolah,” jelasnya.

Baca Juga  Menilik Pendampingan Jurnalis Warga Ala Purwokertokita.com, Ketika Warga Mandiri Membuat Berita

Menurut pengelola tempat pengolahan ubur-ubur, Afui (50) dalam sehari bisa mendapat ubur-ubur hingga 100 ton. Namun, diakuinya, karena keterbatasan tempat pengolahan sehingga ubur-ubur yang ditampung tidak banyak. “Biasanya bisa sampai 100 ton, tetapi tergantung cuaca. Kalau sedang bagus, nelayan akan melaut dan mengambil ubur-ubur,” jelasnya.

Ubur-ubur yang ditangkap semuanya berjenis matahari dan biasanya ditemukan di laut pantai selatan Jawa. Hasil olahan ubur-ubur di tempatnya, lanjut Afui, biasanya akan diekspor ke negara di Asia Timur. “Biasanya dijadikan bahan makanan untuk restoran. Harganya kalau dijual di sana (luar negeri) sangat mahal,” ucapnya.

Ia melanjutkan, sekali ekspor ubur-ubur bisa mengirimkan satu kontainer. “Dalam satu kontainer bisa berton-ton yang dikirim ke luar negeri,” jelasnya.

Uwin Chandra

Related posts