
Purwokertokita.com – Pimpinan tertinggi Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab menegaskan tidak mungkin Abu Bakar Baasyir (ABB) terlibat dalam terorisme. Sebab, selama berhubungan dengan ABB, tak pernah sekalipun ABB mengajarkan terorisme.
“Kalau ada anggota Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang terlibat, maka saya yakin tidak sepengetahuan Syech Abu Bakar, “ tandasnya. “Ustadz memang keras tapi dalam kerangka aqidah, akhlaq dan tauhid,” tambahnya lagi.
Dia melanjutkan, “Kami sering bekerja sama dengan Syeh Abu Bakar dan organisasinya. Selama kami bekerja sama, baik saya, kawan-kawan pengurus, maupun para aktivis laskar FPI yang ada di bawah, dari pusat sampai ke daerah yang berinteraksi dengan Syeh Abu Bakar Ba’asyir, beliau tidak pernah sekalipun mengajarkan kami untuk melanggar hukum agama maupun hukum negara, apalagi mengajarkan terorisme,” ujarnya, saat memberikan kesaksian dalam sidang peninjauan kembali (PK) lanjutan terpidana terorisme, Abu Bakar Baasyir, Selasa (26/1).
ABB dijerat pasal terorisme lantaran tuduhan memberikan dana pelatihan militer sebesar Rp 150 juta di Jalin Janto, Aceh.
Kata Rizieq, Bahkan ABB tak paham dengan pelatihan fisik apalagi militer. Dia menceritakan dalam satu kesempatan pertemuan dengan ABB, dia berdiskusi bahwa FPI berencana membuka posko-posko pendaftaran mujahidin ke Palestina.
“Kemudian beliau tanya, Habib Rizieq, latihan fisik itu apa? Apakah menggunakan senjata? Saya katakan kepada ustaz Abu Bakar Ba’asyir, tidak ada penggunaan senjata, Ustadz. Beliau langsung mengatakan, alhamdulillah,” paparnya.
Rizieq menilai, tuduhan keterlibatan ABB dalam pelatihan militer Aceh itu tak masuk akal. Sebab, ABB selalu mengatakan kepada dia untuk berhati-hati dalam melangkah. ABB mengaku khawatir jika petinggi FPI itu sampai salah jalan dengan melakukan latihan menggunakan senjata karena nantinya akan dijerat dengan undang-undang yang sangat berat.
“Saya katakan kepada ustaz Abu Bakar Ba’asyir, saya jamin, anak-anak kami latihan secara resmi, bahkan diketahui oleh Kodam, Kodim, dan Koramil setempat serta Polda, Polres, dan Polsek setempat tanpa menggunakan senjata,” jelasnya saat itu kepada ABB.
Rizieq menilai, mestinya yang paling bertanggungjawab dalam pelatihan militer Aceh adalah Sofyan Tsauri. Sebab, dia lah yang merancang, merekrut dan mendesain pelatihan militer.
“Sofyan Tsauri membujuk anggota JAT dan FPI untuk ikut pelatihan militer tanpa sepengetahuan pimpinan,” tukasnya.
Dia mengaku heran, saat pelaksanaan pelatihan militer di Aceh, Sofyan Tsauri menghilang. Tak lama kemudian, lokasi pelatihan dikepung aparat keamanan.
“Sofyan Tsauri sudah ditangkap, sudah divonis, bahkan sekarang sudah pembebasan bersyarat. Jadi aneh, ada orang sebagai aktor utama yang mengakibatkan adanya korban jiwa, aktor utama yang menyediakan segala macam persenjataan dan amunisi, aktor utama yang menjebak generasi muda kita, kok hari ini sudah bisa gentayangan di tengah masyarakat,” tandasnya.