Home Bola Mampukah Ranieri Membawa Leicester City Juara?

Mampukah Ranieri Membawa Leicester City Juara?

Pemain Leicester City (Sumber: Team Footbal England)
Pemain Leicester City (Sumber: Team Footbal England)

Purwokertokita.com – Setelah era Blackburn Rovers, agaknya belum ada yang mampu menjadi jawara Liga Inggris selain tim kaya yang mampu membeli pemain bak kacang goreng. Leicester City adalah anomali. Meski pernah kalah dari Arsenal yang permainannya dikenal ciamik, dinamis dan keren itu, tak membuat Leicester tersendat melaju di papan atas liga paling keras sejagat itu.

Berikut ini adalah catatan Kang Mul, pengamat bola dari Desa Karangnangka Banyumas. Selain sebagai petani bibit tanaman, ia juga dikenal pemerhati durian khas Banyumas.

Ini dia catatannya:

Penampilan apik nan menawan Leicester City di Liga Premier Inggris musim kompetisi 2015/2016 dengan memuncaki klasemen sampai pekan ke-30 merupakan sebuah kejutan besar bagi Liga Premir Inggris juga penggemar sepak bola di seluruh jagad. Tak ada yang memprediksi pasukan anak asuh pelatih berkebangsaan Italia Claudio Ranieri yang bermaterikan pemain kelas dua berhasil merajai singgasana liga.

Mereka mengoleksi 63 poin dari 30 pertandingan, 18 kali menang,9 kali seri, dan 3 kali kalah. Saat ini mereka menjadi tim paling produktif bersama Totenham Hotspurs dengan memasukan gol ke gawang lawan sebanyak 53 gol dan kemasukan 31.

Namun Totenham Hostspur lebih sedikit gol kemasukannya yaitu 24 gol. Satu prestasi yang tak bisa dianggap kecil karena James Vardy dan Ryan Mahrez menjadi penyumbang lumbung gol bagi skuad yang bermarkas di King Power Stadium. Torehan golnya menjadikan James Vardy menjadi penyerang tersubur di Liga Inggris.

Kemenangan telak 3-1 atas pesaing terdekatnya, Manchester City di Etihad Stadium makin memperlebar jarak menjadi enam poin serta memperbesar peluang skuad yang mempunyai julukan “The Foxes” semakin lari kencang meninggalkan lawan-lawannya dalam perburuan menggapai gelar juara. Kekalahan anak asuh Manuel Pellegrini menjerumuskan David Silva dkk ke posisi 3 sesudah armada Mauro Pochetino, Totenham Hotspur menggeser posisi naik ke posisi kedua.

Ada yang tak lazim di musim kompetisi ini. Kelompok “Big four” yang beranggotakan Chelsea, Manchester United,Manchester City serta Arsenal mengalami penurunan tajam dalam hal permainan. Betapa tidak, Chelsea FC terlempar dari posisi “empat besar’ terperosok di posisi ke-13 meski telah berganti pelatih dari Jose Mourinho ke tangan mantan pelatih timnas Belanda, Rusia, PSV Eindhoven, dan Real Madrid, Guus Hidink.

Mereka belum mampu menerobos ke posisi aslinya karena bermain buruk sejak awal kompetisi. Meeeka tak menunjukkan layaknya klub yang musim lalu menjadi juara Liga Inggris.

Padahal Chelsea tak banyak mengubah materi skuadnya. Hanya beberapa pilarnya seperti kiper seniornya Peter Chech yang hengkang ke rival Londonnya Arsenal serta bebrapa pemain yang dipinjamkan seperti Mohammad salah ke Juventus.

Manchester United di bawah asuhan Louis van Gaal juga belum mampu menampilkan permainan yang konstiten. Kadang bermain bagus kadang bermain di bawah standar meski telah menggelontorkan triliuan rupiah untuk menggaet bintang barunya semacam Sergio Romero (penjaga gawang), Martial, dll nyatanya pelatih gaek yang digadang-gadang menggantikan kesuksesan Sir Alex ferguson masih memble bertengger di posisi lima klasemen dengan 47 poin dari 29 pertandingan.

Catatan mereka, 13 kali menang, 8 kali seri dan 8 kali kalah, serta gol memasukan 37, gol kemasukan 27 gol. Dari gambaran diatas MU menunjukkan attakcing football yang biasanya diusung Meneer van Gaal gagal total.

Bagamina mungkin selisih antara memasukan dan kemasukan berselisih 10 gol. Pola dan skema yang diimpikan mantan pelatih Ajax Amsterdam, Barcelona, AZ Alkamar dan timnas Belanda belum mampu diterjemahkan dengan baik karena bocornya lini pertahanan serta tumpulnya barisan penyerang MU yang dimotori kapten Wayne Rooney.

Memudarnya penampilan dua dari anggota Empat Besar yang beberapa tahun belakangan ini menguasai liga inggris menjadi kesempatan besar Leicester City menerobos barisan elit. Sementara Manchester City yang memulai kompetisi dengan sangat baik tiba-tiba dipertengahan musim mengalami penurunan perfoma, baik karena akumulasi kartu akibat pelanggaran mapun cedera yang melanda kaptennya Vincent kompany.

Arsenal menjadi klub yang paling memungkinakan menjadi penghalang James Vardy dkk menikmati juara Inggris karena Mezut Ozil dkk menjadi kesebelasan yang mengalahkannya dan terbebas dari badai cedera andalnnya. Hanya saja konsentrasi pasukan Gudang Peluru Arsenal yang tampil di empat kompetisi Liga Inggris,Piala FA,Piala Liga serta Liga Champions akan mempengaruhi kebugaran pemainnya juga memilih pertandingan mana yang harus diutamakan. Mereka kini sudah tersingkir dari Piala FA dan Liga Champions, dengan terhormat tentu saja, dan bisa kembali berkonsentrasi di liga.

“The Foxes” Leicester City sangat diuntungkan dibanding pesaing-pesaingnya karena hanya berkosentrasi di Liga Inggris. Mereka sudah tersingkir di babak empat Piala Liga dan babak ketiga Piala FA.

Konsistensi permainan yang ditunjukkan sejak roda kompetisi dimulai sampai pekan ke-30 apabila dipelihara dengan meraih poin dari satu pertandingan ke pertandingan maka akan memudahkan jalan bagi Leicester City merengkuh gelar Liga Premier Inggris untuk pertama kalinya bisa tercapai.

Memang betul berselisih lima poin dari Totenham Hotspur dan Arsenal diposisi 2 dan 3 serta 12 poin jarakknya dari Manchester City belum menjad garansi menjadikan anak asuh Ranieri menjadi juara karena pertandingan masih menyisaakan 8 pertandingan lagi.

Paling tidak selisih 5 poin dan 11 poin dari pesaingnya mengurangi tekanan. Namun bisa juga membebani para pemain yang belum mempunyai mental juara. Secara matematis hanya Totenham Hotspur yang menjadi ancaman serius Leicester City yang masih mungkin menggeser posisinya di pemuncak Liga Premier Inggris

Keuntungan 8 kali sisa pertandingan yang dimiliki The Foxes dengan 5 kali bertanding di hadapan publiknya menghadapi tim tim kelas medioker dan papan bawah menjadi nilai plus apabila dimaksimalkan meraih angka penuh dengan mengalahkan tamunya yang bertanding di King Power Stadium dengan dukungan fanatik penggemarnya yang haus akan gelar juara.

Pertandingan away paling berat saat memasuki pekan ke 36 bertandang ke Old Trafford Stadion menghadapi penguasa terbanyak Liga Inggrs yang akan menjadi pembuka gelar juara sebelum menjamu Everton serta dipartai pamuncak Liga menghadapi juara bertahan musim lalu Chelsea FC yang sedang berupaya memasuki zona Eropa akan melakukan perlawanan sengit.

Menjadi pertanyaan besar mampukan Claudio Ranieri menghapus julukan specialis runner up yang disandangnya saat menangani Fiorentina, Valencia, Atletico Madrid, AS Monaco dan Chelsea FC. Ia hanya berhasil duduk diperingkat kedua meski bebrapa kesebelasan yang diasuhnya sempat memimpin klasemen namun di pekan-pekan akhir roda kompetisi, skuad anak asuhnya mengalami penurunan permainan akibat kelelahan fisik karena pemain andalnnya bermain terus menerus secara regular, kesalahan taktik dan strategi juga badai cedera menghantui.

Pelatih yang mempunyai julukan The Tinkerman itu mampukah untuk pertama kalinya menyabet titel juara Liga sesudah menangani berbagai klub papan atas di beberapa klub top Eropa?

Alangka indahnya apabila tangan dingin Ranieri berhasil diwujudkan dengan prestasi juara dengan menangani kesebelasan yang hampir terdegradasi musim lalu serta dengan skuad yang bermaterikan pemain-pemain murah untuk seukuran Liga Inggris namun berkualitas layaknya pemain berbandrol mahal karena kejelian pelatih asal Italia dalam menanamkan soliditas dan spirit pemain dilapangan. Kita tunggu kecerdikan dan Kepintaran sang allenatore Claudio Ranieri mempertahankan konsistensi anak asunya hingga akhir musim kompetisi.

Sukses Ranieri dan Leicester City akan menjadi harapan baru bagi dunia sepakbola yang menjadi mangsa gurita komersialisasi dan tumpukan uang yang menjadi indikator sebuah klub merengkuh deretan trophy. Sepakbola menjadi membumi beserta seluruh pendukungnya, menjadi bagian universal yang tak lagi diukur dengan kekuatan finasial yang membuat lunglai setiap klub atau negara. menjadi rendah diri,kecemasan dan rasa tak percaya diri.

Lihatlah Riyad Mahrez, James Vardy, Kasper Smeikcal, Sinji Okazaki, Robeth Huth,danny Drinkwater tegak kepala menantang para pesainngya dengan permainan kolektitifitas yang solid ,strategi dan taktik jitu pelatih yang berhasil dimprovisasikan dilapangan.

Serta dukungan spirit para pendukungnya menjadi asset terbesar The Foxes menampar raksasa-raksasa Liga Inggris yang jumawa dalam deretan trophy juara karena kekuatan finansial yang sangat besar

Ranieri dan Leicester City akan bilang “Uang bukan segala-galanya akan tetapi kerja keras, semangat, soliditas,loyalitas jauh lebih penting dari segepok uang”