
Purwokertokita.com – Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Slamet Effendi Yusuf meninggal pada Rabu (2/1`2) malam. Ia dimakamkan di Kompleks Pondok Pesantren Al Azhary Grumbul Karangcengis Desa Lesmana Kecamatan Ajibarang Banyumas sekitar pukul 20.00 Kamis malam setelah Sholat Isya.
Ratusan santri dan kolega ikut mengantar pemakaman tersebut. Tak kurang Gus Mus ikut menyampaikan bela sungkawa. Pengelola pondok pesantren tersebut, Ustadz Mustolih mengatakan, Slamet meninggal saat menjalani kegiatan di Bandung. Ia mendapat kabar Slamet Effendi wafat saat berada di tengah acara. “Beliau sangat sibuk sebagai Wakil Ketua PBNU dan sebagai pengurus di Dewan Pimpinan MUI pusat,” ujarnya.
Slamet Effendi Yusuf dikenal di kalangan warga sekitar sebagai penerus pendiri pondok pesantren Al Azhary.Ia mengemukakan orangtua Slamet Effendi Yusuf, mbah Yusuf mendirikan pondok pesantren Quran tersebut. Setelah ayahnya meninggal, Slamet Effendi Yusuf merintis dan mengembangkan pesantren dengan cara mulai mendirikan lembaga formal dari Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah.
“Terakhir beliau datang ke sini sekitar November. Kadang tidak pasti, setiap ada kegiatan beliau pasti selalu menyempatkan datang ke pesantren, dalam sebulan bisa dua tiga kali,” ujarnya.
baca: Almarhum Slamet Effendi Yusuf Dimakamkan di Pesantren Al Azhary Ajibarang
Sebelum Slamet Effendi Yusuf meninggal, pengelola Ponpes Al Azhary Ustadz Mustolih sempat menyampaikan amanat kepadanya sekitar dua tahun lalu, jika suatu saat meninggal minta dimakamkan di kompleks Ponpes Al Azhary. “Beliau (Slamet Effendi Yusuf) sempat matur, kepada saya; ‘Dik Mustolih, kalau disini ada kuburannya gimana?’ Saya jawab, ‘Di Pesantren manapun kalau maqom pendiri memang dekat dengan santri,” katanya menirukan.
Kemudian, jelas Mustolih, Slamet effendi Yusuf bertanya lagi kepadanya. “Beliau tanya lagi, ‘Apa santri tidak takut ada makomnya?’Kemudian saya jawab, ‘justru makom kalau secara spiritual itu ghaib, kita tidak bahas, tapi kalau secara fisik adalah prasasti. Jadi siapa pun yang disini (dimakamkan), (menunjukan) bahwa pendiri ini punya visi begini agar terus menghidupkan motivasi, spirit menjadi penting ketika ada sesuatu yg secara simbolik ditengah-tengah pondok pesantren,” cerita Mustolih.
Menurutnya, pembicaraan tersebut dilakukan sekitar dua tahun lalu. Tetapi, katanya, sekitar tiga bulan lalu ada salah seorang ustad menyampaikan hal yang sama. Saat itu, katanya, Slamet Effendy Yusuf menunjuk sendiri tempat makam untuk dirinya. “Saat itu, dia tanya, ‘Kalau saya dimaqom disini gimana?’ Itu beliau langsung yang minta, bukan dari siapa-siapa,” jelas Mustolih.
Dalam pemakaman tersebut terlihat juga sejumlah tokoh NU Banyumas. Juga terlihat beberapa anggota politisi asal Banyumas. Pemakaman diwarnai dengan hujan yang sudah turun sejak siang hari.
Ridlo Susanto