Hama Wereng Serang Seribu Hektar Lahan Pertanian di Banyumas

Peristiwa450 Dilihat
gambar istimewa

Purwokertokita.com – Serangan hama wereng kini telah menyerang lahan pertanian padi seluas 1.000 hektar di Banyumas. Kondisi itu menyebabkan sedikitnya 75 hektar lahan pertanian padi puso.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dinpertan KP) Kabupaten Banyumas, Widarso mengatakan, serangan wereng di Kabupaten Banyumas saat ini sudah merata. Serangan yang cukup parah terjadi di wilayah Kecamatan Banyumas.

”Sudah ada 1.000 hektare yang terserang, dan 75 hektare di antaranya puso. Saat ini satu-satunya cara sudah harus disemprot pestisida. Selain itu, rumpun yang kondisinya parah sebaiknya dibabat dan dibakar agar tidak menular,” katanya, Selasa (4/7).

Menurut Widarso, karena saat ini sudah mulai memasuki musim panen, wilayah yang terserang sudah mulai berkurang. Tetapi potensi serangan masih mungkin terjadi terutama di wilayah yang belum panen.

”Yang hati-hati di daerah lereng Gunung Slamet, mulai dari Kecamatan Pekuncen sampai Kecamatan Sumbang, kalau daerah lain sudah mulai panen,” tuturnya.

Dia mengatakan, petani di wilayah Kecamatan Banyumas yang paling parah terserang wereng sudah tertangani, terutama yang ikut asuransi usaha tani. Dengan demikian, ketika gagal panen akibat serangan wereng, asuransinya dapat diklaim.

Yang tidak ikut asuransi, lanjut Widarso, akan dibantu bibit dari Dinpertan KP Kabupaten Banyumas untuk musim tanam berikutnya. Sementara itu, mengenai pestisida yang dianggap kurang efektif mengatasi wereng, hal itu dapat terjadi karena wereng yang sudah kebal beberapa pestisida.

”Mengenai keluhan pestisida kurang mempan, itu bisa karena resistensi. Kondisi tersebut terjadi karena banyak petani yang menggunakan obat nonrekomendasi,” ungkapnya.

Untuk menekan populasi wereng, menurutnya, petani juga perlu melakukan pemeriksaan secara teliti. Pengamatan harus dilakukan sampai dengan membuka rumpun.

Jika jumlah wereng lebih banyak dari jumlah musuh alaminya, ada baiknya segera disemprot. ”Pemeriksaan itu juga termasuk padi yang masih di persemaian. Sebab, ternyata juga sudah ada yang menyerang persemaian,” ujarnya. (YS)

Tinggalkan Balasan