local media summit

Dituduh PKI, Ini yang Dialami Penghayat Kepercayaan di Cilacap
Lingkungan, Peristiwa

Dituduh PKI, Ini yang Dialami Penghayat Kepercayaan di Cilacap

Gara-gara KTP Strip, yang menandakan pemiliknya merupakan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME, banyak penganut agama loka yang dianggap atheis yang diidentikkan dengan Komunis (PKI). (Ridlo Susanto/purwokertokita.com)
Gara-gara KTP Strip, yang menandakan pemiliknya merupakan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME, banyak penganut agama loka yang dianggap atheis yang diidentikkan dengan Komunis (PKI). (Ridlo Susanto/purwokertokita.com)

Purwokertokita.com – Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30SPKI) tak hanya meninggalkan dampak fisik sesaat. Aksi pembersihan orang-orang yang dituduh tersangkut G30SPKI dilakukan secara massif di Cilacap, Jawa Tengah. Trauma itu, hingga kini masih dirasakan. Bahkan, oleh orang-orang yang sama sekali tidak terlibat.

Aksi pembersihan terhadap pihak-pihak yang dituduh terlibat G30SPKI menyebabkan sebagian besar penganut agama lokal di Cilacap, Jawa Tengah terpaksa memilih agama tertentu di KTP mereka. Mereka khawatir, pengosongan kolom agama membuat mereka dituduh atheis, yang identik dengan PKI

”Hingga sekarang, trauma revolusi 1965 masih dirasakan oleh penghayat kepercayaan, meski sama sekali tidak terlibat dalam Gestapu, “ ujar Ketua Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Cilacap, Basuki Rahardja, Senin (16/11).

Padahal, kata dia, pada tahun 1961 sudah keluar Undang-undang yang melindungi penghayat kepercayaan yang ditandai dengan KTP strip ( – ) pada kolom agama yang kemudian diperkuat dengan 23 tahun 1992 tentang pedoman pemeluk kepercayaan yang belum diakui sebagai agama.

“Diskriminasi dan pengucilan dilakukan oleh aparat pemerintah. Ada juga masyarakat sipil yang memandang kami rendah,” ungkapnya.

Baca Juga  BNI Sirkuit Nasional Kembali Digelar di GOR Satria Purwokerto

Menurut dia, Penghayat Kepercayaan memiliki posisi yang sama dengan penganut enam agama mainstream yang lain. Namun, kenyataannya, ada eksklusi (pengucilan) yang berimbas pada minimnya akses mereka terhdapat kehidupan sosial masyarakat.

“Bahkan sampai sekarang pun masih banyak yang mengucilkan penghayat kepercayaan. Meski mereka bukan eks tapol atau napol,” ujarnya.

Sementara, Direktur LSM Serikat Tani Mandiri (Setam), Petrus Sugeng menambahkan semangat gerakan PKI saat itu, yang berdalih membela rakyat miskin, membuat banyak penghayat kepincut. Sebab, salah satu isi kampanye saat itu adalah persamaan hak dan percepatan redistribusi tanah.

“Banyak diantara warga masyarakat ini, yang miskin, kepincut dan akhirnya terlibat dalam gerakan sayap PKI. Ada yang di Barisan Tani Indonesia (BTI) ada pula yang jadi Gerwani,” jelasnya.

Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Cilacap, Saiful Mustain mengatakan perlakukan diskrimintif terhadap penghayat kepercayaan ini terekam dalam riset Program Peduli Lakpesdam NU yang dilakukan sejak Desember 2014 lalu.

Baca Juga  Was-was Digusur Pemkab, PKL di Kebumen Datangi Kantor Bupati

Perlakuan diskrimintaif ini mulai tingkat paling ringan berbentuk verbal hingga kategori berat berupa tidak diprosesnya administrasi para penghayat kepercayaan di lembaga pelayanan publik. Diskriminasi lainnya adalah, minimnya program dan fasilitas pemerintah yang menyentuh hajat hidup penghayat kepercayaan.

“Ternyata, masih ada juga aparatur negara yang mengkait-kaitkan pengosongan kolom agama dengan peristiwa Gestapu,” tukasnya.

Saiful menambahkan, diskriminasi penghayat kepercayaan juga diterima dari kelompok masyarakat lain berbasis agama dan organisasi tertentu. Namun, ia tidak menyebut kelompok yang kerap melakukan tindakan tersebut. Beberapa yang terekam dalam riset adalah penghentian secara paksa ritual tahunan di tahun 2014 oleh sebuah Ormas. Lalu ada juga protes salah satu Ormas dalam proses pendirian pasemuan (rumah ibadah) penghayat kepercayaan di Kecamatan Sampang.

Lakpesdam NU, kata Saiful, mendorong agar tercipta ruang penerimaan sosial terhadap penghayat kepercayaan. Salah satu yang dilakukan adalah dengan cara mempertemukan para penghayat kepercayaan dengan para pemuka agama, Ormas dan dinas terkait di Pemda Cilacap.

Ridlo Susanto

Related posts