Kenalkan Demokrasi dan Pemilu, SMK Muhammadiyah 3 Purbalingga Datangkan KPU

SMK Muhammadiyah 3 Purbalingga mengundag Komisi Pemilihan Umum Purbalingga untuk menjelaskan demokrasi sebagai bagian materi projek penguatan profil pelajar Pancasila.

Peristiwa819 Dilihat

PURWOKERTO.SUARA.COM, PURBALINGGA – Masjid Nur Kamila di komplek Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah 3 Purbalingga mendadak ramai, Jumat pagi (11/8/2023). Ratusan siswa kelas XI berpakaian seragam Hizbul Wathan duduk bersila menghadap Catur Sigit Prasetyo, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Purbalingga Divisi Perencanaan Data dan Informasi.

Pagi itu siswa SMK Muhammadiyah 3 Purbalingga mengikuti diskusi dengan KPU. Diskusi yang terseelenggara atas kerja sama sekolah dengan KPU merupakan bagian dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), satu di antara materi pada kurikulum merdeka.

Siswa kelas XI SMK Muhammadiyah 3 Purbalingga merupakan calon pemilih pemula yang membutuhkan panduan pada pengalaman pertamanya menggunakan hak pilihnyakelak. Karena itu, pertemuan dengan KPU menjadi momentum untuk bertanya bagaimana menggunakan hak pilih pada Pemilu mendatang.

Selain sebagai upaya memperdalam wawasan demokrasi siswa, materi kepemiluan juga menjadi bekal bagi siswa yang dalam waktu dekat akan memiliki hak pilih. Sebab, siswa kelas XI kini berusia antara 16 tahun hingga 17 tahun.

“Kalau sudah 17 tahun, sudah menikah atau sudah pernah menikah maka seseorang sudah punya hak pilih, maka kita harus bijak menggunakan hak suara kita” kata Catur.

Menurut Catur, ada lima kiat menjadi pemilih cerdas. Pertama, menelusuri rekam jejak kontestan pemilu. Mengenal kepemimpinan seseorang bisa dengan melihat bagaimana kiprahnya di masa lalu.

Jika memiliki rekam jejak baik, maka seseorang itu layak dipertimbangkanmenjadi pemimpin. Selain masa lalu, lihat juga masa depan dengan mengetahui visi misi dan program kerja calon pemimpin tersebut.

Kedua tidak larut dalam politik uang atau money politics. Sebab, politik uang hanya memberi kenikmatan sesaat, namun setelahnya bisa jadi musibah. Catur mengimbau memilihlah atas dasar pertimbangan logis bukan karena uang.

Ketiga menjadi pemilih yang berdaulat tanpa intervensi dari pihak manapun. Dalam pemilu ada azas bebas, yang artinya setiap pemilih memiliki kebebasan meneentukan pilihan.

Keempat aktif mengajak orang sekitar untuk menggunakan hak suaranya. Menggunakan hak suara bisa menjadi awal perubahan kondisi yang lebih baik. Semakin banyak yang memilih, semakin kuat dukungan publik terhadap seorang pemimpin.

“Kelima menghindari kampanye hitam,” ujar dia.

Pada kegiatan ini, Catur juga membagikan doorprize sehingga siswa aktif berpartisipasi dalam dialog. Doorprize antara lain diberikan kepada siswa yang berani jujur mengakui kesalahan dalam sebuah permainan ice breaking.

“Saya sangat mengapresiasi siswa yang berani jujur. Kalau adek tidak berdiri, mungkin yang lain tidak ikut berdiri mengakui kekeliruannya,” kata Catur.*

Wawan Eko Mujito, Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, mengatakan, P5 memperkuat wawasan demokrasi siswa. Satu di antara wujud demokrasi ialah pemilihan umum.

Karena itu, SMK Muhammadiyah 3 Purbalingga berinisiatif bekerjasama dengan KPU untuk menjelaskan demokrasi dan kepemiluan. Siswa kelas XI dipilih menjadi peserta karena mereka yang paling dekat sebagai calon pemilih.

“Kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan dan pemahaman mendalam kepada para siswa tentang prinsip-prinsip dasar demokrasi serta peran aktif dalam proses demokrasi,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan