local media summit

Kasus Gagal Ginjal Akut, Ahli Farmakologi Unsoed Purwokerto Ungkap Pentingnya Kontrol Bahan Baku Obat di Indonesia
Ragam

Kasus Gagal Ginjal Akut, Ahli Farmakologi Unsoed Purwokerto Ungkap Pentingnya Kontrol Bahan Baku Obat di Indonesia

Ilustrasi Obat Sirup (Foto: Pixabay)

PURWOKERTOKITA.COM, BANYUMAS – Koordinator Sistem Informasi Unsoed, Alief Einstein, berbincang dengan Dosen Farmasi, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), apt Heny Ekowati MSc PhD tentang etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG). Ahli Imunologi dan Farmakologi itu kemudian menjelaskan etilen glikol dan dietilen glikol.

Hingga Senin, 24 Oktober 2022 Kementerian Kesehatan mencatat total kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal mencapai 245 orang di 26 provinsi dengan angka kematian 141 anak.

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), gangguan gagal ginjal disebabkan etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG). Hal ini terungkap dari hasil investigasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap obat yang digunakan para pasien yang dilaporkan Pemerintah Gambia. WHO menduga kuat penyebab gagal ginjal akut tersebut adalah EG dan DEG yang mencemari obat batuk dalam bentuk sirop.

Kasus keracunan massal EG dan DEG sudah terjadi sejak tahun 1937. Kasus keracunan paling awal terjadi di Amerika Serikat. Hingga tahun ini, kasus gagal ginjal telah terjadi di 18 negara.

Heny Ekowati mengatakan, formulasi obat terdiri dari zat aktif dan zat pembantu (eksipien). Pada formulasi sediaan sirup, gliserin atau propilen glikol digunakan sebagai pemanis sekaligus pelarut.

Bahan baku gliserin yang digunakan sering kali terkontaminasi oleh etilen glikol dan dietilen glikol. Baik etilen glikol maupun dietilen glikol dapat menyebabkan keracunan jika dikonsumsi melebihi batas aman (kurang dari 1 mL/kgBB).

“Konsumsi DEG yang melebihi batas aman akan menyebabkan gejala klinik yang muncul bertahap dari gangguan pencernaan dan mengarah pada gagal ginjal akut setelah kurang lebih 1-3 hari,” ujar dia.

Heny Ekowati, yang juga alumni S1 dan apoteker dari Institut Teknologi Bandung menjelaskan Dietilen glikol (DEG) memiliki rumus molekul C4H10O3. Bahan ini memiliki berat molekul 106,12 g/mol. Cairan bening, tidak berwarna, praktis tidak berbau, kental, cairan higroskopis, dengan titik leleh 6,5 °C, titik didih 245 °C, dan tekanan uap <0,01 mmHg pada 25°C. DEG memiliki rasa manis yang tajam.

Dietilen Glikol

Dietilen glikol larut dalam air, alkohol, eter, aseton, dan etilen glycol. Sifat-sifat fisik ini membuatnya menjadi pelarut yang sangat baik untuk bahan kimia dan obat-obatan yang tidak larut dalam air.

Dietilen glikol ini ada di dalam bahan baku gliserin selain sebagai kontaminan juga dapat terbentuk pada proses pembuatan sediaan sirup. Pada pembuatan sediaan sirup, hidrogenolisis pada karbohidrat di dalam gliserin menyebabkan terbentuknya DEG.

Dietilen glikol ini telah menyebabkan keracunan masal setidaknya pada 12 kejadian selama 70 tahun terakhir. Pada tahun 1937, sirup sulfanilamid, dengan bahan pelarut dietilen glikol menyebabkan keracunan masal di Amerika. Keracunan ini menyebabkan terjadinya kematian sebanyak 105 orang.

Keracunan masal di tahun ini menjadikan penelitian terkait toksisitas DEG terus dilakukan. Wabah pertama dan terbesar ini menyebabkan disahkannya Undang-Undang Makanan, Obat, dan Kosmetik Federal Amerika tahun 1938 yang mewajibkan bukti keamanan sebelum obat digunakan di pasaran.

Kasus Keracunan Masal

Alumni S3 Kanazawa University Jepang ini menyebut beberapa keracunan masal di dunia yang disebabkan oleh DEG antara lain:
a. Tahun 1937, terjadi di Amerika. Sediaan sirup sulfonamid menggunakan DEG. Pada produk akhirnya mengandung 74% DEG. Produk ini menyebabkan kematian pada 105 orang.
b. Tahun 1969, terjadi di Afrika Selatan. Sediaan obat tidur (sedatif) yaitu merk Pronap dan Plaxin menggunakan pelarut propilen glikol. Sampai saat ini tidak ada laporan bahan apakah yang menyebabkan kematian 7 orang yang mengkonsumsinya.
c. Tahun 1985, terjadi di Spanyol. Krim sulfadiazin untuk luka bakar menggunakan bahan sodium lauril sulfat sebagai zat pembantunya. Produk ini mengandung DEG sebanyak 7gr/kg produk dan menewaskan 5 orang yang menggunakannya.
d. Tahun 1986 di India. Pada bahan baku gliserin yang digunakan sebagai bahan pembantu di sediaan farmasi, ditemukan DEG sebesar 18,5% pada produk akhir yang menggunakan bahan baku gliserin ini. Produk ini menyebabkan kematian pada 21 orang.
e. Tahun 1990 terjadi di Nigeria. Sirup parasetamol yang menggunakan pelarut propilen glikol, menyebabkan kematian 47 orang. Sampai saat ini tidak dilaporkan kontaminan apa yang menyebabkan kematian dan diduga adalah DEG.
f. Tahun 1992 terjadi Argetina. Sirup propolis untuk obat pernafasan atas, menggunakan propilen glikol sebagai bahan tambahan. Produk ini mengandung 65% (w/v) DEG dan menyebabkan kematian sebanyak 29 orang.
g. Tahun 1992 terjadi di Venezuela. Sirup parasetamol yang menggunakan propilen glikol sebagai bahan tambahan, mengandung DEG sebanyak 28% (w/v). Pada kejadian ini, tidak ada laporan penelitian, berapa jumlah orang yang meninggal.
h. Tahun 1995, terjadi di Bangladesh. Sirup parasetamol yang menggunakan propilen glikol sebagai bahan tambahan, menyebabkan kematian pada 236 orang. Sampai saat ini tidak dilaporkan kontaminan apa yang menyebabkan kematian dan diduga adalah DEG.
i. Tahun 1995, terjadi di Haiti. Sirup parasetamol yang menggunakan gliserin sebagai bahan tambahan, mengandung DEG sebanyak 24% (v/v) dan menyebabkan 88 orang meninggal.
j. Tahun 1998, terjadi di India. Sirup obat batuk mengandung DEG sebanyak 17.5% (v/v) dan sirup parasetamol dengan bahan tambahan propilen glikol mengandung DEG sebanyak 15,4% (w/w). Kedua sediaan tersebut menyebabkan kematian secara berurutan sebanyak 33 dan 8 orang.
k. Tahun 2006, terjadi di Panama. Sirup obat batuk yang menggunakan gliserin sebagai bahan tambahan, mengandung DEG sebanyak 8% (v/v). Dan menyebabkan kematian sebanyak 78 orang.
l. Tahun 2008 terjadi di Nigeria. Sirup parasetamol terkontaminasi DEG dan menyebabkan kematian sebanyak 84 orang.

Baca Juga  Pemuda di Banyumas Dibekuk Polisi karena Simpan Ganja

Terbaru, pada bulan September 2022, WHO mendapat laporan dari Gambia di Afrika Barat terkait temuan obat yang diproduksi di bawah standar (substandard medical products). Produk medis substandard adalah produk yang tidak memenuhi standar kualitas atau spesifikasi sehingga disebut out of specification.

Terdapat empat produk obat yaitu Promethazine Oral Solution, Kofexmalin Baby Cough Syrup, Makoff Baby Cough Syrup, dan Magrip N Cold Syrup. Diduga sampel produk tersebut mengandung diethylene glycol (DEG) dan ethylene glycol (EG) dalam jumlah yang tidak dapat ditoleransi sebagai kontaminan.

Upaya Pencegahan

Heny Ekowati yang juga Anggota Ikatan Apoteker Indonesi ini mengatakan, sementara itu di Indonesia, Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) tanggal 20 Oktober 2022 telah melakukan upaya-upaya preventif terkait adanya isu obat sirup yang terkontaminasi DEG dan EG.

Salah satunya dengan melakukan sampling dan pengujian terhadap beberapa obat dan hasilnya ditemukan lima produk obat yang mengandung cemaran EG yaitu Termorex Sirup, Flurin DMP Sirup, Unibebi Cough Sirup, Unibebi Demam Sirup, dan Unibebi Demam Drops.

Terhadap lima produk yang mengandung EG di atas batas ambang aman (ambang batas aman atau Tolerable Daily Intake/TDI untuk cemaran EG dan DEG sebesar 0,5-1 mg/kg berat badan per hari),

Heny Ekowati yang juga Anggota Indonesia Society for Cancer Chemoprevention (ISCC) menjelaskan, seperti yang sudah disebutkan di atas, bahan tambahan yang digunakan sebagai pemanis dan sekaligus pelarut di dalam sediaan sirup di antaranya adalah gliserin dan propilen glikol.

Baca Juga  Tak Ingin Ada Air Mata, Suporter Banyumas Ingin Gas Air Mata Dilarang Dalam Sepakbola

Bahan-bahan ini digunakan dalam jumlah besar secara komersial di industri farmasi. Pelarut adalah bahan yang tidak bereaksi dengan bahan lain yang digunakan dalam formulasi sediaan farmasi untuk berbagai alasan.

Di antaranya adalah untuk meningkatkan kelarutan bahan aktif; untuk produksi massal; meningkatkan konsistensi formulasi sediaan; atau sebagai pelarut untuk membuat sediaan farmasi oral, topikal (oles) atau parenteral (suntikan).

Kontaminasi berupa DEG dapat disebabkan oleh kesengajaan atau ketidaksengajaan dalam pembuatan sediaan farmasi. Kemurnian bahan baku pelarut misalnya gliserin, seharusnya tertulis di dalam Label Bahan Baku dan diverifikasi.

Pada kejadian keracunan masal di Panama tahun 2006, gliserin sengaja diganti dengan DEG dan diberi label sebagai gliserin murni 99,5% dan menjualnya dengan harga lebih tinggi. Proses verifikasi yang dilakukan selama transit dan di tujuan akhir tidak dilakukan atau tidak cukup untuk mendeteksi kandungan bahan baku.

Selain itu, selama pengiriman, label baru tiba-tiba muncul, yang isinya menggambarkan bahwa bahan baku “DEG” isinya sebagai gliserin pharmaceutical-grade (gliserin yang digunakan untuk industri farmasi).

Selain dalam proses pengadaan bahan baku, DEG dapat muncul pada saat proses pembuatan bahan baku pelarut misalnya gliserin. Penelitian menemukan beberapa proses pembuatan bahan baku yang potensial untuk terbentuknya kontaminan termasuk DEG.

Kontaminan yang terbentuk bergantung pada bahan baku dan metode yang digunakan. Kontaminan dapat terbentuk dari bahan baku dengan kualitas rendah, lemak non-food- grade yang terhidrolisis, terjadinya saponifikasi; atau alkoholisis untuk menghasilkan gliserin.

Hidrogenolisis karbohidrat dalam produksi gliserin, dapat menghasilkan produk sampingan seperti DEG, produk sampingan yang harus dihilangkan untuk membuat bahan baku pharmaceutical-grade. Pada kasus keracunan yang terjadi Haiti tahun 1995, kemungkinan bahan baku gliserin terkontaminasi dengan DEG.

Amerika Serikat telah menyiapkan beberapa metode untuk mencegah masalah yang disebabkan oleh obat dan bahan baku obat palsu di industri farmasi yang tertuang dalam United State Pharmacopoeia (USP). USP berfungsi dalam penetapan standar publik resmi untuk semua resep dan obat bebas, suplemen makanan, dan produk perawatan kesehatan lainnya yang diproduksi dan dijual di Amerika.

USP diakui oleh US Food, Drug and Cosmetic Act tahun 1938, dan terdiri dari monografi untuk banyak bahan yang digunakan dalam sediaan farmasi. Monograf ini menguraikan dengan tepat prosedur verifikasi bahan aktif dan tambahan obat; prosedur yang berlaku untuk produk farmasi di Amerika Serikat terlepas dari mana bahan-bahan itu berasal.

Food and Drug Administration (FDA) memiliki wewenang untuk menegakkan kepatuhan dengan standar USP oleh industri Farmasi di Amerika Serikat. Monograf USP untuk gliserin mencakup tes khusus untuk DEG,untuk diterapkan pada produk yang mengandung gliserin yang diproduksi, dipegang atau didistribusikan untuk pembuatan obat.

FDA juga telah mengembangkan Current Good Manufacturing Practice (CGMP) untuk obat jadi. Indonesia telah memiliki Farmakope Indonesia ke-6 yang sebagiannya diadopsi dari USP. Kemudian otoritas untuk pengawasan obat dan makanan di Indonesia juga ada yaitu Badan Pengawasan Obat dan Makanan.

Otoritas negara untuk pengawasan obat sangat perlu memperhatikan pengujian kemurnian bahan baku, menaati panduan dan menerapkan mekanisme untuk pengujian kontaminasi DEG pada bahan baku yang digunakan untuk sediaan farmasi. Terutama dalam hal ini adalah gliserin dan propilen glikol.

“Pihak berwenang tidak hanya mengandalkan dokumentasi yang diberikan oleh pihak produsen bahan baku. Pengujian secara ketat sesuai dengan pedoman yang ditetapkan harus selalu dilakukan untuk memastikan bahwa sediaan farmasi hanya mengandung bahan kimia yang aman untuk dikonsumsi manusia,” ujarnya.

Related posts