Gempur Rokok Ilegal

gempur rokok ilegal
Tradisi ‘Mendem’ Ebeg Lambang Kelalaian Penguasa
Lokal Banyumasan, Peristiwa

Tradisi ‘Mendem’ Ebeg Lambang Kelalaian Penguasa

Pawang menyadarkan penari yang kesurupan

PURWOKERTOKITA.COM, BANYUMAS-Kesenian tradisional kuda lumping (ebeg) masih populer di kalangan masyarakat Banyumasan. Di tengah gempuran  modernitas, kesenian Ebeg bukannya punah atau terpinggirkan. Namun malah berkembang dan tetap diminati masyarakat, tidak terkecuali generasi muda.

Ebeg memang punya daya tarik yang tak lekang oleh zaman.  Ebeg memadukan unsur seni dengan magis sehingga menarik untuk disaksikan. Di antara bagian atraksi seni yang paling ditunggu penonton adalah jantur. Saat sesi itu dimulai, penari Ebeg tidak sadarkan diri. Ia kehilangan kendali seperti orang kesurupan.

Apa yang ada di hadapannya dimakan.  Namun anehnya  barang yang dimakan bukan yang biasa dimakan manusia, bahkan terbilang ekstrem, seperti pecahan kaca (beling).

Baca Juga  Ngeri, Obat Terlarang Dijual Bebas di Warung Kelontong Banyumas

Penonton yang melihat atraksi itu dijamin ngilu. Namun bagian ini yang ditunggu-tunggu. Ebeg identik dengan jantur. Makanya kesenian ini sering disebut Janturan.

Jantur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti ilmu sulap, ilmu sihir. Praktiknya memang Janturan bisa membuat orang tersihir seperti menyaksikan atraksi sulap.

“Ebeg harus ada mendeme (jantur). Kalau tidak ada, namanya hanya tarian,”kata Ketua Paguyuban Ebeg Purbalingga Pekubeling Teguh

mengatakan, jantur sebenarnya memiliki makna filosofi tersendiri. Dalam kesenian Ebeg, jantur tidak berdiri sendiri, namun satu rangkaian dengan atraksi lainnya. Sebelum penari ‘kesurupan’, ada beberapa tarian yang diperagakan.

Baca Juga  Sudirman Fashion Street, Balutan Budaya Pop dalam Pengenalan Motif Batik Sudirman Khas Purbalingga

Setiap tarian dengan iringan tembang Jawa menyiratkan makna yang dalam. Beberapa tarian menggambarkan kekuasaan, serta kehidupan raja yang gemerlap dan pencitraan yang sempurna.

Jantur menggambarkan penguasa yang lupa diri. Sehingga muncul sifat kebinatangan yang rakus memakan hasil bumi rakyat.

Karenanya tak heran, penari Ebeg biasanya kesurupan binatang seperti Kera yang memakan apapun di hadapannya.

Hingga datang pawang khusus untuk mengembalikan kesadaran penari itu sehingga kembali normal. Ini menggambarkan penguasa yang bertaubat atau sadar atas perbuatan zalimnya kepada rakyat.

“Setelah penguasa kalap, semuanya dimakan. Lalu dia disadarkan, lalu sadar, ” katanya (JAC)

 

 

Related posts