Gempur Rokok Ilegal

gempur rokok ilegal
Menertawakan Bahasa Ngapak Tanda Kurang Berperadaban
Lokal Banyumasan, Peristiwa

Menertawakan Bahasa Ngapak Tanda Kurang Berperadaban

Ilustrasi Ngapak (istimewa Facebook)

PURWOKERTOKITA.COM, BANYUMAS-Komunikasi dengan Bahasa Ngapak atau Bahasa Banyumasan acapkali jadi bahan tertawaan ketika didengar masyarakat luar daerah.  Di berbagai acara televisi pun, kita sering melihat, seketika ada artis berbahasa Ngapak langsung mengundang gelak tawa.

Apa yang salah dengan bahasa Ngapak?

Sejarawan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Prof.Dr.Sugeng Priyadi, M.Hum berpandangan, masyarakat yang menertawakan orang ketika berkomunikasi dengan bahasa Banyumasan belum tentu punya niat untuk mengolok-olok.

Tertawa dengan mengolok-olok, menurutnya, adalah dua hal yang berbeda.

Tertawa mungkin saja reaksi spontan ketika mendengar orang Banyumasan berbicara dengan dialek yang khas, atau intonasi yang tegas.

Baca Juga  Sayur dan Beras untuk Masyarakat, Bansos dari Polres Purbalingga

“Itu saking tidak ngertinya yang ketawa. Karena suaranya plek-plek-plek. Ngomongnya tegas, tidak klemak-klemek,”katanya

Ia menganggap orang yang menertawakan bahasa orang lain berarti berperadaban rendah. Sugeng sendiri mengaku tak pernah malu menggunakan Bahasa Banyumasan meski saat berada di kota lain atau berkumpul dengan komunitas lain di luar Banyumas.

“Kalau kita ditertawakan biarkan saja. Orang yang menertawakan bahasa, itu berperadaban rendah. Saking tidak tahunya,”katanya

Baca Juga  Ngeri, Obat Terlarang Dijual Bebas di Warung Kelontong Banyumas

Setiap bahasa memiliki karakter dan sejarahnya masing-masing. Seperti halnya bahasa Banyumasan dengan kekhasannya sendiri lebih dekat dengan bahasa Jawa Kuna.

Bahasa Banyumasan tidak mengenal strata seperti dalam bahasa Jawa Solo-Yogya (wetan) yang mengenal istilah Ngoko dan Kromo.

Penggunaan bahasa ngoko dan kromo punya tempatnya masing-masing tergantung dengan siapa lawan bicaranya. Ini berbeda dengan bahasa Banyumasan yang bersifat egaliter.

“Meng”kromo”kan orang lain itu beban. Kalau salah ngomongnya, bisa dianggap kurangajar, ” katanya

 

 

 

Related posts