local media summit

Jalan Terjal (Bandara) Jenderal Besar Soedirman
Peristiwa

Jalan Terjal (Bandara) Jenderal Besar Soedirman

Pesawat Citilink mendarat di Bandara Jenderal Besar Soedirman, Kamis 10 November 2022. Citilink kembali melayani penerbangan setelah sempat behenti.

PURWOKERTO.SUARA.COM, PURBALINGGA – Haji Agus Salim, pahlawan nasional dari Tanah Minang, pernah berujar bahwa memimpin itu menderita. Jenderal Besar Soedirman, pahlawan perang kemerdekaan Indonesia kelahiran Purbalingga, mungkin paham betul ungkapan Haji Agus Salim.

Meski belum tentu memaknai perjuangannya sebagai derita, Panglima Besar Soedirman telah melewati perang gerilya yang belum pernah dialami pemimpin militer manapun. Dalam kondisi tubuh yang payah karena penyakit yang menggerogoti paru-parunya, ia tetap tegar memimpin gerilya.

Karena itu, kisah Jenderal Besar Soedirman selalu menjadi teladan bagi prajurit TNI hari ini. Patriotisme dan ketabahannya melewati jalan terjal mempertahankan kemerdekaan tak pernah surut.

Kisah yang sama juga menjadi milik Bandara Jenderal Besar Soedirman. Sejak dibuka pada 1 Juni 2021, jalan Bandara Jenderal Besar Soedirman tak pernah mudah.

Setelah gagal memetik panen pada musim lebaran tahun itu, jalan Bandara Soedirman tak pernah langgeng. Selalu saja tersendat.

Maskapai demi maskapai dibujuk agar bersedia sekadar singgah di Purbalingga. Namun persinggahan hanyalah sementara, tak pernah ada yang mampu menjaga keberlanjutannya.

Baca Juga  Kapal Nelayan Cilacap Terbalik di Perairan Kebumen, 6 Penumpang Selamat Berkat Pelampung¬†

Pertama Citilink, anak raksasa maskapai plat merah yang kini tengah terpuruk, Garuda Indonesia. 3 Juni 2021 menjadi penerbangan perdana Citilink di Bandara Jenderal Besar Soedirman. Tak lama lalu padam, berhenti beroperasi.

Setelah Citilink, terbitlah Wings Air, anak perusahaan Lion Air pada 5 Agustus 2022. Wings Air hanya bertahan sehari. Setelah penerbangan perdana, Wings Air berhenti beroperasi.

Segigih Jenderal Besar Soedirman, Bandara Jenderal Besar Soedirman pun tak mau menyerah. Maka ditempuhlah jalur “gerilya”.

Kepala daerah sekitar Bandara Jenderal Besar Soedirman dikerahkan untuk menghidup-hidupi bandara melalui skema blocking seat. Tak cukup kepala daerah, “gerilya” blocking seat masuk ke pedalaman desa-desa.

Daerah hingga desa dibebani biaya pesan kuota kursi maskapai Citilink. Satu kursi dibanderol Rp 1,2 juta. Purbalingga dijatah 20 kursi tiap penerbangan. Hingga akhir tahun 2022, ada 30 penerbangan.

Hari ini, penerbangan Bandara Jenderal Besar Soedirman kembali dibuka berkat strategi gerilya blocking seat. Citilink sekali lagi mengudara di langit Purbalingga dengan tujuan Halim Perdanakusuma Jakarta.

Baca Juga  Polisi Gerebek Judi 303 di Banyumas, 4 Orang Diamankan

Direktur Citilink Indonesia, Dewa Kadek Rai, mengakui skema blocking seat bukan solusi jangka panjang. Jalan gerilya ini hanya sementara.

Skema blocking seat hanya upaya untuk menstimulus pasar. Ia memperkirakan market akan tumbuh setelah dua bulan.

“Di awal untuk menumbuhkan market butuh dukungan kabupaten di Banyumas Raya,” ujar dia .

Namun skema blocking seat berpotensi membebani keuangan daerah dan juga desa. Perjalanan dinas ke Jakarta juga dikhawatirkan dipaksakan demi memenuhi kuota 20 kursi yang telah dibeli.

Asisten Bupati Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Agus Winarno, membantah asumsi mengada-adakan perjalanan dinas demi memenuhi kuota kursi.

Ia mengatakan, skema yang berlaku bukan blocking seat, namun optimalisasi perjalana dinas yang telah ada dengan mengarahkan ke perjalanan melalui jalur udara melalui Bandara Jenderal Besar Soedirman.

“Skemanya bukan bloking seat. Tapi optimalisasi perjalana dinas. Menginventarisir perjalanan dinas di desa dan mengarahkannya melalui penerbangan Bandara Jenderal Besar Soedirman,” ujar dia.

Related posts