Gempur Rokok Ilegal

gempur rokok ilegal
Alasan Historis di Balik Perubahan Hari Jadi Kabupaten Banyumas
Lokal Banyumasan, Peristiwa

Alasan Historis di Balik Perubahan Hari Jadi Kabupaten Banyumas

Prof.Dr. Sugeng Priyadi, M.hum. seorang penulis dan sejarawan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP)

PURWOKERTOKITA.COM, BANYUMAS- Tepat pada 22 Februari 2022 nanti, Kabupaten Banyumas akan memperingati hari jadi yang ke-451 tahun sejak berdirinya menjadi sebuah wilayah kekuasaan.

Namun, tahu kah kalian jika hari jadi Banyumas pernah mengalami perubahan?

Hari jadi tanggal 22 Februari rupanya mulai diperingati belum lama, baru beberapa tahun belakangan.

Kabupaten yang sebagian wilayahnya terletak di lereng Gunung Slamet Jawa Tengah dengan 27 kecamatan dan 1,7 juta penduduk ini pernah mengganti hari jadinya.

Iya, hari jadi Banyumas sempat mengalami perubahan pada tahun 2016 lalu. Hal ini sesuai dengan Perda nomor 10 tahun 2015.

Baca Juga  Ngeri, Obat Terlarang Dijual Bebas di Warung Kelontong Banyumas

Mulanya, hari jadi Kabupaten Banyumas diperingati setiap tanggal 6 April. Terbitnya Perdana di tahun 2015 itu sekaligus mengganti Hari Jadi Banyumas dari 6 April menjadi 22 Februari.

Penetapan sebuah hari jadi merujuk pada hari dimana tonggak pemerintahan suatu wilayah mulai dilaksanakan.

Dalam peraturan daerah Nomor 10 Tahun 2015 dijelaskan, Hari Jadi Kabupaten Banyumas  6 April tidak sesuai dengan kenyataan sejarah yang ada.

Hari jadi itu juga menimbulkan polemik di kalangan pemerhati sejarah Banyumas.

Baca Juga  Warga Purbalingga Tewas Tersengat Listrik, Terlempar karena Setrum Tegangan Tinggi

Perubahan Hari Jadi menjadi 22 Februari telah mempertimbangkan sejarah yang ada. Dimana pada 22 Februari tahun 1571 masehi, Adipati Warga Utama II atau R. Joko Kaiman diwisuda sebagai Adipati Wirasaba VII.

Menurut Prof.Dr. Sugeng Priyadi, M.hum. seorang penulis dan sejarawan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menjelaskan mengenai perubahan hari jadi Banyumas yang sebelumnya tidak memiliki landasan sejarah yang kuat.

“Ya karena yang dulu tidak ada sumbernya, hanya ngarang seperti itulah. Jadi karena hanya karangan maka diganti,” tuturnya. (CITRA)

 

 

Related posts