Gempur Rokok Ilegal

gempur rokok ilegal
Mengapa Ada Budaya Sunda di Banyumas? Ini Sejarahnya
Lokal Banyumasan, Peristiwa

Mengapa Ada Budaya Sunda di Banyumas? Ini Sejarahnya

Calung Lengger Banyumas (ist)

PURWOKERTOKITA.COM, BANYUMAS-Meski berada di wilayah Jawa Tengah dengan kebudayaan Jawa yang kental, Banyumas ternyata tidak lepas dari pengaruh kebudayaan Sunda.

Tak ayal kebudayaan Banyumasan memiliki karakteristik tersendiri, berbeda dengan budaya masyarakat Jawa bagian timur atau utara, termasuk dalam hal dialek/bahasa.

Sebagian kesenian tradisional Banyumas pun ada sentuhan kebudayaan Sunda.
Ini wajar, mengingat Banyumas memang memiliki histori yang berhubungan dengan Kerajaan Pajajaran atau Sunda.

Untuk diketahui, Daerah Banyumas menghasilkan banyak naskah yang berbentuk karya babad. Sebagaian besar naskah babad itu adalah milik perorangan, baik keturunan ningrat maupun keturunan rakyat biasa.

Tahukah kamu bahwa pada penulisan Babad Banyumas memiliki hubungan dengan kebudayaan Sunda?

Hal itu terjadi karena Banyumas merupakan daerah perbatasan antara kebudayaan Jawa dengan kebudayaan Sunda.

Daerah Banyumas yang berada di belahan barat-selatan daerah kejawen hidup dalam suasana dua budaya yang kuat, Sunda dan Jawa.

Penduduk Banyumas pasti tidak asing dengan kisah-kisah kelampauan nenek moyang mereka, tokoh Raden Baribin (Raden Putra), Raden Kaduhu (Katuhu), Banyak Sasra, Banyak Kumara, dan tokoh idola lainnya yang dianggap sebagai leluhur masyarakat Banyumas.

Baca Juga  Sayur dan Beras untuk Masyarakat, Bansos dari Polres Purbalingga

Dalam buku karya Prof.Dr. Sugeng Priyadi, seorang penulis buku dan sejarawan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Babad Banyumas cenderung memperoleh pengaruh dari Majapahit, namun tidak lepas juga dari pengaruh Sunda.

Bagi masyarakat Sunda, Siliwangi bukanlah tokoh yang asing. Bahkan keturunan ningrat Sunda menyebut dirinya keturunan Siliwangi. Dalam naskah-naskah Banyumas ditemukan pula tokoh Siliwangi.

Dalam bukunya, Priyadi menyebut tokoh Siliwangi dipakai oleh Dinasti Pasirluhur dan Banyumas sebagai tokoh leluhur untuk melegitimasikan kesusukan mereka sebagai dinasti lokal.

Tokoh Siliwangi setara dengan Brawijaya dalam naskah babad dan silsilah yang ditulis di Jawa.

Sebagian besar teks Babad Banyumas membuka kisahnya dari seorang pelarian Majapahit bernama Raden Baribin yang menurunkan dinasti Banyumas. Raden Baribin menjadi pangkal silsilah dinasti Banyumas yang berkuasa di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Serayu.

Baca Juga  Sudirman Fashion Street, Balutan Budaya Pop dalam Pengenalan Motif Batik Sudirman Khas Purbalingga

Perkawinan Raden Baribin dengan Ratna Pamekas menyatukan Majapahit dengan Pajajaran. Dari perkawinan tersebut melahirkan empat orang anak, yaitu  Raden Kaduhu, Banyak Sasra, Banyak Kumara, dan Rara Ngaisah.

Penulis Babad Pasir dan Banyumas menyatukan kembali ketiga keturunan Prabu Pamekas yang saling bermusuhan itu. Kesatuan itu dilambangkan dengan tokoh panakawan dalam pewayangan gagrag Banyumasan, yaitu Carub Bawor.

Sejarawan Banjarnegara Heni Purwono mengatakan, perkawinan leluhur Banyumas dari Jawa dan Sunda membuat terjadinya persilangan kebudayaan Jawa-Sunda.

Di antara hasil akukturasi budaya Jawa-Sunda yang masih dilestarikan masyarakat Banyumas sampai saat ini adalah Calung untuk iringan Lengger Banyumasan.  Calung atau Angklung dalah alat musik Sunda, namun di Banyumas Raya dipakai untuk mengiringi Tari Lengger khas Banyumasan.

“Togog atau Bagong juga, tokoh egaliter, ” katanya (VIVI)

 

Related posts