Gempur Rokok Ilegal

gempur rokok ilegal
Mengurai Limbah Jadi Berkah, Potret Pemanfaatan Eco Enzyme di Era Pagebluk
Lingkungan

Mengurai Limbah Jadi Berkah, Potret Pemanfaatan Eco Enzyme di Era Pagebluk

Pelajar pencinta alam Purbalingga membuat eco enzyme di Klenteng Hok Tek Bio Purbalingga, April lalu. /Foto: Afgan

PURWOKERTOKITA.COM – Dari pelataran klenteng Hok Tek Bio Purbalingga, riuh tawa muda-mudi terdengar nyaring. Mereka asik memilah dan memotong buah. Bukan bukan buah segar yang sedang mereka pilah, namun buah yang tak lagi segar. Lebih persisnya limbah buah.

Mereka adalah pelajar pencinta alam dari SMA 1 Karangreja dan SMK Marif Bobotsari. Mereka datang ke klenteng untuk belajar membuat eco enzyme dari aktivis lingkunan Klenteng Hok Tek Bio Purbalingga.

Eco enzyme adalah hasil dari fermentasi limbah dapur organik seperti ampas buah dan sayuran, gula (gula coklat, gula merah atau gula tebu), dan air. Eco enzyme memiliki beragam kegunaan mulai dari disinfektan, cairan pembersih, pupuk organik, insektisida organik, hingga mempercepat penyembuhan luka.

Lin Ngan Min atau Amin, aktivis lingkunan Klenteng Hok Tek Bio Purbalingga, sudah sejak pagi keliling toko buah. Ia mengambil limbah buah dari toko buah-toko buah di wilayah Purbalingga.

Pagi itu Amin hanya sempat menyambangi dua toko buah. Dari dua toko buah saja, terkumpul belasan kilogam limbah buah. Setelah memilah, mereka membuang bagian yang mulai membusuk dan mengambil bagian yang masih baik.

Buah dan kulit buah hasil pemilahan kemudian dicuci bersih. Di bagian lain, ada yang siap memotong limbah buah yang telah terseleksi menjadi seukuran dadu.

Limbah buah yang telah dipotong seukuran dadu kemudian ditimbang dan dimasukan ke dalam ember berisi air dan larutan gula kelapa. Perbandingan komposisi gula, buah dan air sebanyak 1:3:10. Setelah itu diaduk dan ditutup rapat.

Mereka kemudian menempelkan catatan berisi tanggal pembuatan dan tanggal panen, jenis buah dan kulit buah yang digunakan sebagai bahan.

Memproduksi eco enzyme bersama komunitas lain sudah menjadi kebiasaan relawan eco enzyme Klenteng Hok Tek Bio Purbalingga. Semangat mereka adalah berbagi pengetahuan agar pemanfaatan eco enzyme semakin luas.

“Kita hidup di bumi yang sama, maka kita juga harus punya kepedulian yang sama untuk merawat bumi kita,” ujar Amin.

Amin yakin eco enzyme bisa menjadi solusi persoalan lingkungan yang dihadapi hari ini dan ke depan. Sebab, eco enzyme memanfaatkan sampah organik menjadi produk baru yang memiliki banyak manfaat.

Sampah organik dari limbah rumah mendominasi tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir. Sampah organik menghasilkan gas methan yang memicu pemansan global.

Jika setiap rumah tangga mampu mengolah sampah organik di masing-masing rumah, maka intensitas gas methan bisa ditekan. Selain itu, setiap rumah tangga akan merasakan berbagai manfaat eco enzyme pada aktivitas sehari-hari.

Amin menjelaskan, eco enzyme efektif untuk membersihkan cemaran pestisida pada buah dan sayur. Dengan takaran 1:1000, larutan eco enzyme bisa mengurangi residu pestisida dalam 10 menit.

Baca Juga  Sudirman Fashion Street, Balutan Budaya Pop dalam Pengenalan Motif Batik Sudirman Khas Purbalingga

Eco enzyme juga bisa digunakan unturek membersihkan perabot rumah tangga yang membandel. Bagian bawah penggorengan yang menghitam bisa berkurang setelah direndam dengan eco enzyme murni.

Tak hanya itu, eco enzyme juga bermanfaat sebagai bahan kosmetik. Jamur dari hasil fermentasi ecoenzyme dipercaya melembabkan dan menghaluskan kulit.

Mengutip Zero Waste Indonesia (ZWID), komunitas berbasis online pertama di Indonesia yang bertujuan mengajak masyarakat Indonesia untuk menjalani gaya hidup nol sampah, pada awal proses pembuatan eco enzyme menghasilkan gas ozon (O3).

O3 dapat mengurangi karbondioksida (CO2) di atmosfer yang memperangkap panas di awan. Jadi akan mengurangi efek rumah kaca dan global warming.

Eco enzyme juga mengubah amonia menjadi nitrat (NO3), hormon alami dan nutrisi untuk tanaman. Eco enzyme juga mengubah CO2 menjadi karbonat (CO3) yang bermanfaat bagi tanaman laut dan kehidupan laut.

Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Lembaga Penelitian Universitas Trisakti berjudul ‘Eco-Enzyme Sebagai Rekayasa Teknologi Berkelanjutan Dalam Pengolahan Air Limbah’ menyebut eco enzyme mampu mengurangi kandungan amonia pada air.

Penelitian ini menguji korelasi konsentrasi eco enzyme dengan konsentrasi amonia sebesar 34,5 mg/l dalam air. Percobaan dilakukan menggunakan lima sampel yang masing-masing menguji konsentrasi eco enzyme mulai dari 0 persen, 2 persen, 6 persen, 8 persen dan 10 persen.

Sampel dengan konsentrasi eco enzyme 0 persen memiliki kandungan amonia 34,5 mg/l. Sampel dengan konsentrasi eco enzyme 2 persen memiliki kadar amonia 32,2 mg/l. Konsentrasi eco enzyme 6 persen menekan kadar amonia menjadi 30,1 persen, sampel dengan 8 persen eco enzyme memiliki kadar amonia 29,2 persen dan konsentrasi eco enzyme 10 persen mengubah kadar amonia menjadi 25,8 persen atau menurunkan konsentrasi amonia hingga 25,2 persen.

Pemanfaatan Eco Enzyme untuk Penaganan PMK

Petugas PMI Purbalingga menyemprotkan disinfektan dari larutan eco enzyme di kandang ternak yang terjangkit PMK, Mei yang lalu.

Senin 24 Mei 2022 seorang peternak sapi datang ke Klenteng Hok Tek Bio Purbalingga. Ia mengeluhkan kondisi sapinya terus memburuk sejak terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK). Ia datang ke Klenteng membawa harapan relawan eco enzyme yang bermarkas di Klenteng Hok Tek Bio Purbalingga membantu memulihkan kesehatan hewan ternaknya.

Sebelumnya ia mendengar eco enzyme mampu mengobati luka dan membasmi bakteri serta virus. Eco Enzime merupakan cairan hasil fermentasi kulit buah. Eco Enzyme ditemukan Dr. Rosukon Poonpanvong seorang peneliti dari Thailand.

Sore harinya, relawan gabungan dari Klenteng Hok Tek Bio datang ke kandang sapi dengan membawa eco enzyme dan alat semprot. Pertama, tim mengamati gejala yang muncul akibat PMK.

Dari pengamatan, sapi yang terjangkit PMK mengalami infeksi pada mulut. Kondisi mulut terus mengeluarkan air liur.

Baca Juga  Sayur dan Beras untuk Masyarakat, Bansos dari Polres Purbalingga

“Setelah dicek ternyata di mulut sapi tersebut ada banyak sariawan,” kata Kris Hartoyo, aktivis pada relawan gabungan Klenteng Hok Tek Bio.

Kondisi mulut yang penuh sariawan membuat sapi enggan makan. Karena tak makan, maka kondisi tubuh sapi makin kurus dan lemas.

Selain mulut, kuku pada kaki sapi yang terinfeksi PMK juga menunjukkan ada luka. Ketika dicek, kuku sapi ini ada yang bernanah ada pula yang sampai penuh belatung.

Kondisi ini membuat sapi tak mampu berdiri. Dari 16 ekor sapi yang terjangkit PMK, enam ekor di antaranya tak bisa berdiri karena luka pada bagian kaki.

“Melihat luka ini, saya makin optimistis eco enzyme mampu mengobati PMK,” ujar dia.

Maka dimulailah terapi eco enzyme pada sapi yang terjangkit PMK. Terapi yang dilakukan meliputi penyemprotan kandang sapi dengan larutan eco enzyme berkadar 1:1.000. Dalam hal ini eco enzyme difungsikan sebagai disinfektan. Berikutnya, pakan ternak juga disemprot dengan larutan eco enzyme dengan perbandingan sama, 1:1.000. Air minum sapi juga dicampur eco enzyme dengan perbandingan yang sama.

“Sementara pada bagian kaki disemprot dengan eco enzyme murni tanpa campuran,” ucapnya.

Perawatan ini dilakukan rutin setiap hari. Dari hasil pengamatan, hari kedua sapi-sapi itu mulai mau makan. Sapi-sapi ini juga tidak lagi mengeluarkan air liur berlebih.

Pengamatan hari ketiga sapi-sapi itu ada yang mulai bisa berdiri. Nafsu makan sapi ini juga semakin baik. Setelah makan, kondisi sapi tampak lebih sehat.

Pada hari keempat, semua sapi yang semula hanya bisa rebahan kini semua bisa berdiri. Makan pun semakin lahap.

Namun demikian, Kris tak bisa menjamin 100 persen secara klinis sapi-sapi itu sembuh hanya karena eco enzyme. Sebab, pada saat yang sama peternak juga menggunakan obat-obat kimia.

“Tapi saya yakin sekali yang menyembuhkan sapi itu eco enzyme,” tuturnya.

Kini eco enzyme dimanfaatkan untuk pencegahan penyebaran PMK di seluruh Kabupaten Purbalingga. Tim gabungan dari relawan eco enzyme, TNI-Polri dan PMI menyemprot kandang dan sapi di setiap desa secara bergiliran.

Selain untuk penanganan PMK, eco enzyme juga dimanfaatkan pada saat pandemi Covid-19 memuncak. Pusat-pusat keramaian seperti pasar terminal dan jalan raya disemprot disinfektan berbahan larutan eco enzyme.

Ke depan, Kris dan relawan lain akan menggunakan eco enzyme pada bidang pertanian. Eco enzyme akan digunakan untuk memulihkan unsur hara pada tanah yang menurun karena pengaruh pupuk kimia.

<iframe width=”560″ height=”315″ src=”https://www.youtube.com/embed/xCNLwRbN1ec” title=”YouTube video player” frameborder=”0″ allow=”accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture” allowfullscreen></iframe>

Related posts