Gempur Rokok Ilegal

gempur rokok ilegal
Kiat Sukses Kerajinan Batok Kelapa di Purbalingga Bertahan di Tengah Pandemi
Bisnis

Kiat Sukses Kerajinan Batok Kelapa di Purbalingga Bertahan di Tengah Pandemi

Sutrisno, perajin produk berbahan batok dan glugu saat membuat kerajinan di workshopnya di Purbalingga Wetan, Jumat (25/3/2022)./Foto: Pemkab Purbalingga

PURWOKERTOKITA.COM, PURBALINGGA – Pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir membuat banyak usaha gulung tikar. Penyebabnya antara lain pembatasan aktivitas sosial dan menurunnya belanja konsumsi warga.

Selama pandemi berlaku serangkaian kebijakan larangan keluar rumah. Pedagang juga dilarang berjualan. Semua untuk mencegah kerumunan agar penyebaran pandemi bisa terkendali.

Kebijakan itu membuat tren belanja menurun. Penyebab lain memang karena daya beli masyarakat menurun.

Namun ada usaha kecil yang bertahan di tengah hantaman badai pandemi. Satu di antaranya usaha kerajinan berbahan batok dan kayu pohon kelapa atau glugu.

Walaupun terdampak pandemi Covid-19, namun UMKM pengrajin batok kelapa di Kelurahan Purbalingga Wetan, Kabupaten Purbalingga masih tetap bertahan menjalankan usahanya.

Permintaan kerajinan batok kelapa masih terus mengalir dari para pembeli yang berasal dari berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, dan Kalimantan, Sumatra, Sulawesi dan Jogjakarta.

Sutrisno, satu di antara perajin batok kelapa, memperkerjakan enam karyawan.

Baca Juga  Hore! Pengemudi Ojol Purbalingga Terima Bantuan Sosial BBM, Kamu Udah Terima Belum?

Jumlah pekerja yang tidak terlalu banyak membuat pengeluarannya juga tidak terlalu besar. Namun jumlah ini masih mampu memproduksi kerajinan sesuai permintaan konsumen.

“Kami membuat kerajinan yang terbuat dari batok kelapa dan batangnnya, kebanyakan untuk peralatan rumah tangga. Seperti soled, tempat ulekan, ulekan, centong nasi, centong sayur, dan teman-temannya,” ujar dia yang juga ketua paguyuban pengrajin batok kelapa, Jumat (25/3/2022).

Produk buatannya dibanderol dengan harga bervariasi sesuai tingkat kesulitan dan ukuran, mulai dari Rp 10 ribu sampai Rp 50 ribu.

Dalam sebulan Sutrisno bisa mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp 4-5 juta.

Meski berstatus sebagai pemilik, nanun Sutrisno juga turun langsung membuat mal atau pola. Pola ini kemudian dipotong menggunakan table saw atau gergaji mesin di meja.

“Peralatan yang ada di sini, seperti table saw, gerinda, bor duduk, sebagian merupakan bantuan dari pemerintah. Peralatan mesin ini sangat membantu kami dalam mempercepat produksi kerajinan batok kelapa,” ujarnya.

Baca Juga  Sayur dan Beras untuk Masyarakat, Bansos dari Polres Purbalingga

Dari penuturan Sutrisno, setidaknya ada tiga hal yang membuat usaha kerajinan batok kelapa ini bertahan di tengah pandemi. Pertama karena Sutrisno memiliki akses ke pasar di kota-kota besar. Menjaga relasi dengan jejaring pasar sangat penting agar produksi terus berputar.

Kedua, Sutrisno menjaga biaya produksi tetap efisien dengan tenaga kerja yang tak terlalu banyak. Tidak terlalu banyak tenaga kerja membuat usahanya lebih efisien. Efisiensi penting agar bisnis tetap surplus.

Ketiga menjaga produktivitas barang. Dengan jumlah tenaga kerja yang kecil, namun tuntutan produksi besar diatasi dengan peralatan kerja modern.

Berbagai mesin bantuan pemerintah terbukti membuat usaha Sutrisno makin produktif. Selain itu, ia tak segan ikut terlibat dalam proses produksi. Selain membantu produktivitas, keterlibatan owner juga bisa menjaga kualitas produk.

 

Related posts